Idul Fitri Tak Hanya Perayaan Keagamaan Tapi Momentum Perkuat Persatuan di Tengah Keberagamaan di Papua

Nabire – Momentum Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah tidak hanya dimaknai sebagai perayaan keagamaan, tetapi juga menjadi panggilan untuk memperkuat persatuan di tengah keberagaman masyarakat Papua Tengah, khususnya di wilayah adat Meepago.

Hal tersebut disampaikan oleh Melkias Keiya, Kepala Suku Besar Wilayah Adat Meepago. Ia menilai nilai-nilai yang terkandung dalam Idul Fitri memiliki makna universal yang dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat, tanpa terbatas pada umat Muslim saja.

Menurutnya, semangat saling memaafkan, kebersamaan, dan kepedulian sosial yang identik dengan Idul Fitri dapat menjadi fondasi penting dalam menjaga harmoni di tengah keragaman suku, agama, dan budaya yang ada di Meepago.

“Idul Fitri menjadi momentum bersama untuk memperkuat toleransi dan menjaga hubungan antarumat beragama tetap harmonis,” ujarnya.

Selain menyoroti pentingnya persatuan, Melkias juga menekankan aspek keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang perlu mendapat perhatian serius. Ia mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di sepanjang jalur Trans Nabire–Ilaga yang memiliki tantangan geografis dan situasi keamanan tertentu.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk menjauhi konsumsi minuman beralkohol yang berpotensi memicu gangguan keamanan maupun konflik sosial.

Dalam pesannya, Melkias mendorong penyelesaian setiap persoalan melalui pendekatan adat, dialog, dan nilai kekeluargaan. Menurutnya, cara-cara tersebut terbukti lebih efektif dalam menjaga stabilitas sosial di tengah masyarakat yang majemuk.

“Menjaga kedamaian adalah tanggung jawab bersama. Jangan sampai perbedaan suku, agama, dan budaya justru memicu konflik,” tegasnya.

Ia berharap seluruh elemen masyarakat di wilayah Meepago dapat terus menjaga situasi yang aman dan kondusif, sekaligus merawat semangat persaudaraan yang telah lama terbangun.