Pangkalpinang — Upaya pencegahan radikalisme dinilai tidak cukup hanya mengandalkan aparat keamanan. Peran media massa menjadi kunci dalam membangun kesadaran publik, terutama di tengah derasnya arus informasi digital yang menyasar generasi muda.
Hal itu disampaikan Kepala Satuan Tugas Wilayah Bangka Belitung Densus 88 Anti Teror Polri, AKBP Maslikan, dalam kegiatan silaturahmi dan buka puasa bersama awak media di Restoran Pagi Sore Selindung, Senin (16/3/2026).
Dalam suasana hangat dan penuh keakraban, Maslikan menegaskan bahwa media memiliki posisi strategis sebagai jembatan informasi sekaligus agen edukasi bagi masyarakat. Menurutnya, pemberitaan yang konstruktif dapat membantu mengurangi potensi penyebaran paham radikal.
Ia mengapresiasi kontribusi insan pers yang selama ini aktif memberitakan upaya pencegahan terorisme, termasuk mengangkat isu-isu yang berkaitan dengan kerentanan generasi muda terhadap pengaruh negatif di ruang digital.
Maslikan mengingatkan bahwa ancaman radikalisme kerap bermula dari hal kecil yang tidak disadari. Jika tidak diantisipasi secara bersama, kondisi tersebut berpotensi berkembang menjadi masalah yang lebih besar dan meresahkan masyarakat luas.
Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Tidak hanya aparat keamanan, tetapi juga media dan masyarakat perlu berjalan seiring dalam membangun ketahanan sosial terhadap ideologi kekerasan.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya penguatan literasi digital, khususnya bagi kalangan remaja. Kemampuan memilah informasi dan bersikap kritis dinilai menjadi benteng awal dalam mencegah penyebaran paham radikal di era media sosial.
Melalui sinergi yang berkelanjutan, Densus 88 berharap media dapat terus berperan aktif dalam menyebarluaskan informasi yang bersifat edukatif dan preventif, sehingga masyarakat semakin waspada sekaligus mampu menciptakan lingkungan yang aman dari pengaruh radikalisme.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!