Tak Lagi Indoktrinatif, Pancasila Didekati Lewat Perspektif Generasi Z

Yogyakarta – Di tengah derasnya arus digital dan perubahan budaya global, generasi muda mulai menafsirkan ulang makna Pancasila dengan cara yang lebih kontekstual. Hal ini mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Pancasila Versi Generasi Zoomers (Gen Z)” yang digelar Perhimpunan Warga Pancasila (PWP) di Loman Park Hotel Yogyakarta, Minggu (15/3/2026).

Forum ini tidak sekadar menjadi ruang diskusi formal, tetapi juga wadah terbuka bagi Generasi Z untuk menyuarakan cara pandang mereka terhadap ideologi negara di era teknologi. Berbeda dengan pendekatan lama yang cenderung satu arah, forum ini justru mendorong dialog yang lebih cair dan partisipatif.

Sekretaris Umum PWP, Dr. Saifudin Zuhri, menekankan bahwa Gen Z tumbuh dalam ekosistem digital yang membentuk cara berpikir mereka secara berbeda. Paparan terhadap internet, kecerdasan buatan, hingga media sosial membuat generasi ini memiliki pendekatan yang lebih dinamis dalam memahami nilai-nilai kebangsaan.

Ia menilai penting untuk memberi ruang ekspresi yang luas bagi anak muda, tanpa tekanan atau penilaian sepihak. Menurutnya, pemaknaan Pancasila oleh Gen Z justru harus dilihat sebagai bentuk perkembangan, bukan penyimpangan.

“Generasi muda perlu diberi ruang untuk menyampaikan apa yang mereka pikirkan. Biarkan mereka memaknai Pancasila dengan bahasa zamannya sendiri,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan anggota DPR RI Totok Hedi Santosa. Ia menilai nilai-nilai Pancasila sebenarnya telah hidup dalam keseharian generasi muda, meski sering kali tidak disadari. Dalam praktiknya, Gen Z kerap mengekspresikan nilai tersebut melalui isu-isu global seperti hak asasi manusia, kesetaraan, hingga solidaritas sosial.

Menurutnya, tantangan saat ini bukan pada hilangnya nilai, melainkan pada bagaimana menghubungkan kembali nilai tersebut dengan identitas Pancasila.

Sementara itu, Guru Besar Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta, Prof. Dr. Sugeng Bayu Wahyono, mengingatkan bahwa Pancasila sejatinya lahir dari nilai-nilai yang telah lama hidup dalam masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, penafsiran ulang oleh generasi muda merupakan bagian dari proses yang wajar dalam dinamika sosial.

FGD ini menjadi bagian dari rangkaian program PWP yang secara konsisten mendorong dialog lintas generasi. Dengan menghadirkan akademisi, tokoh masyarakat, dan praktisi media, forum ini mencoba menjembatani pemahaman antara nilai-nilai dasar bangsa dengan realitas kehidupan generasi digital.

Melalui diskusi ini, PWP berharap Pancasila tidak hanya dipahami sebagai konsep normatif, tetapi juga dapat diterjemahkan secara relevan dalam kehidupan sehari-hari generasi muda—baik di ruang nyata maupun dunia digital.