Malang – Pura Patirtan Taman Pasopati Girikawi menjadi satu-satunya tempat ibadah umat Hindu di Dusun Jengglong, Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir. Lokasinya sekitar 2,3 kilometer dari Kantor Desa Sukodadi. Tidak jauh dari pura tersebut, sekitar 190 meter, berdiri sebuah rumah sederhana yang menjadi pusat kegiatan umat Muslim.
Bangunan itu dikenal sebagai Bina Baca Alquran (BBQ) Darul Pangestuti. Meski bukan masjid ataupun musala, tempat ini dimanfaatkan warga Muslim untuk menjalankan berbagai aktivitas keagamaan, mulai dari salat wajib, ibadah sunah, hingga belajar agama.
Pada Jumat malam (6/3) misalnya, sekitar 10 warga terlihat menunaikan salat Tarawih di ruangan berukuran sekitar 49 meter persegi tersebut. Selain salat berjamaah, bangunan yang berdiri sejak 14 tahun lalu itu juga menjadi lokasi kajian keislaman.
Kegiatan pengajian biasanya digelar setiap Senin hingga Kamis setelah salat Tarawih, berlangsung hingga sekitar pukul 20.30 WIB. Jamaah yang hadir pun tidak menentu, berkisar antara 10 hingga 20 orang setiap malam.
“Kami biasanya mengundang ustad dari luar desa untuk membimbing warga di sini,” ujar Tokoh Masyarakat Islam Dusun Jengglong, Puji Purwanto.
Selain untuk orang dewasa, BBQ Darul Pangestuti juga menjadi tempat belajar mengaji bagi anak-anak. Pada sore hari, sekitar lima hingga enam anak usia taman kanak-kanak datang untuk mulai mengenal huruf-huruf Alquran.
Sebagai bentuk penghormatan kepada umat Hindu yang menjadi mayoritas di dusun tersebut, seluruh kegiatan ibadah dilakukan menggunakan speaker dalam ruangan. Hal itu juga berlaku untuk azan yang biasanya dikumandangkan oleh anak-anak yang sudah menginjak usia balig.
BBQ Darul Pangestuti juga menjadi pusat pengumpulan zakat fitrah warga Muslim Dusun Jengglong. Biasanya, warga mulai menyerahkan zakat sekitar tujuh hari sebelum Idul Fitri untuk kemudian dibagikan kepada umat Muslim di sekitar dusun.
“Kalau zakat fitrah penerimanya memang harus Muslim. Tapi untuk kurban, selama bukan sapi, kami juga berbagi dengan teman-teman yang beragama lain,” jelas Puji.
Dusun Jengglong sendiri memang didominasi umat Hindu. Dari sekitar 120 kepala keluarga, sekitar 90 persen beragama Hindu, sementara umat Muslim hanya sekitar 10 persen atau 12 kepala keluarga.
Menurut Puji, hubungan kedua kelompok umat beragama itu tidak selalu berjalan mulus di masa lalu. Dulu sempat terjadi ketegangan dan hubungan yang kurang harmonis. Namun, melalui berbagai proses dan komunikasi, hubungan itu mulai membaik sejak sekitar tahun 2020.
Kini, warga dari dua agama tersebut justru sering terlibat dalam kegiatan bersama, terutama saat perayaan keagamaan.
“Kalau ada pawai ogoh-ogoh menjelang Nyepi, kami yang Muslim ikut meramaikan. Sebaliknya saat takbir keliling menjelang Idul Fitri, teman-teman Hindu juga ikut membantu,” ujarnya.
Takbir keliling di dusun itu biasanya dilakukan dengan konvoi kendaraan roda dua maupun roda empat yang berkeliling kampung sambil memutar kalimat takbir melalui sound system. Kondisi jalan yang naik turun cukup ekstrem membuat warga jarang melakukannya dengan berjalan kaki.
Namun tahun ini, kemungkinan besar takbir keliling tidak dilaksanakan karena waktunya berdekatan dengan Hari Raya Nyepi.
“Kami harus menghormati teman-teman yang merayakan Nyepi,” tambah Puji.
Saat Nyepi, akses menuju Pura Patirtan Taman Pasopati Girikawi akan ditutup total. Semua warga dilarang melintas, termasuk mereka yang tidak merayakan Nyepi.
Karena jumlah umat Muslim di Dusun Jengglong kurang dari 40 orang, mereka biasanya melaksanakan salat Idul Fitri di dusun tetangga, seperti di Masjid Nur Hidayah di Dusun Petungpapak yang berjarak sekitar satu kilometer dari BBQ Darul Pangestuti.
Sekretaris Desa Sukodadi, Sodikin, mengatakan hubungan baik antarwarga juga terlihat saat hari raya.
“Saat Idul Fitri biasanya umat Hindu membantu menjaga di masjid-masjid,” katanya.
Tradisi saling berkunjung juga tetap terjaga. Ketika Idul Fitri tiba, warga Hindu kerap anjangsana ke rumah tetangga Muslim, baik yang berada di dalam dusun maupun di desa lain. Hal serupa juga dilakukan warga Muslim saat umat Hindu merayakan hari besar mereka.
Di Dusun Jengglong, perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk hidup berdampingan. Justru dari perbedaan itulah tumbuh rasa saling menghormati yang terus dijaga hingga kini.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!