Yogyakarta – Di saat selimut malam masih mendekap Kota Pelajar, sebuah pemandangan sarat makna tersaji di pelataran Gereja Katolik Paroki Kristus Raja Baciro. Saat dini hari, lonceng gereja seolah menyapa kumandang shalawat dalam sebuah harmoni yang langka. Di sana, tradisi suci umat Muslim yakni sahur, dilakukan bersama-sama oleh tokoh lintas agama dalam sebuah agenda “Sahur Keliling” yang dipimpin oleh Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid.
Kegiatan ini bukan sekadar jamuan makan dini hari, melainkan sebuah pernyataan politik kebudayaan bahwa Yogyakarta tetap menjadi benteng toleransi yang kokoh yang siap menahan derasnya gempuran arus polarisasi. Kegiatan ini dilangsungkan pada Senin (2/5).
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, yang hadir di tengah kerumunan jemaat dan warga, mengungkapkan kekagumannya atas pemilihan lokasi tersebut. Menurutnya, pelaksanaan sahur di dalam kompleks gereja adalah anomali yang indah dan luar biasa. Hal ini menegaskan identitas Yogyakarta sebagai miniatur Indonesia, di mana ruang ibadah tidak hanya menjadi tempat suci bagi satu golongan, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan kemanusiaan.
“Ini adalah bukti bahwa keharmonisan di Yogyakarta bukan sekadar slogan di papan reklame, melainkan praktik hidup yang nyata. Pemerintah kota berkomitmen penuh mendukung ruang-ruang dialog seperti ini demi menjaga stabilitas dan kedamaian sosial,” tegas Hasto.
Ibu Sinta Nuriyah, sosok dibalik konsistensi gerakan ini sejak tahun 2000, berbagi refleksi historis mengenai awal mula Sahur Keliling. Tradisi ini lahir saat beliau mendampingi KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjabat sebagai Presiden RI. Awalnya, sahur keliling adalah instrumen “belanja masalah” untuk menyerap aspirasi kaum marjinal—mulai dari kuli panggul di pasar hingga pengamen di kolong jembatan.
Seiring berjalannya waktu, misi tersebut berevolusi menjadi kampanye masif untuk memperkuat solidaritas lintas iman. “Kemanusiaan berada di atas segala perbedaan. Melalui sahur bersama ini, kita ingin mengirimkan pesan kuat bahwa sekat agama tidak boleh membatasi rasa kasih dan kepedulian kita terhadap sesama yang membutuhkan,” ujar Ibu Sinta dengan penuh keteduhan.
Pertemuan di Gereja Baciro ini secara tidak langsung berfungsi sebagai upaya “deradikalisasi alami” di tingkat akar rumput. Dengan duduk melingkar dan menikmati hidangan sederhana yang sama, para tokoh lintas agama dan masyarakat umum sedang membangun benteng pertahanan terhadap paham-paham ekstrem yang sering kali mengeksploitasi perbedaan keyakinan.
Dialog yang hangat di meja sahur tersebut membuktikan bahwa ancaman intoleransi dapat diredam dengan perjumpaan fisik dan keterbukaan hati. Ketika pemeluk agama yang berbeda bisa saling berbagi nasi dan doa di waktu subuh, maka narasi kebencian tidak akan memiliki ruang untuk tumbuh.
Kegiatan ini diakhiri dengan harapan kolektif agar semangat Baciro dapat menular ke wilayah lain di Indonesia. Yogyakarta kembali membuktikan bahwa kerukunan bukanlah hasil dari keseragaman, melainkan buah dari keberanian untuk saling merangkul dalam perbedaan.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!