Makassar Bangun “Laboratorium Toleransi” di Tingkat Kelurahan

Makassar – Upaya memperkuat harmoni di tengah keberagaman terus digencarkan Pemerintah Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Kali ini, pendekatan dilakukan langsung dari level paling dekat dengan masyarakat: kelurahan.

Sebanyak lima kelurahan ditetapkan sebagai proyek percontohan “Kelurahan Sadar Kerukunan”, sebuah program kolaboratif antara Pemkot Makassar, Kementerian Agama Kota Makassar, dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Program ini tidak sekadar seremoni, melainkan dirancang menjadi model penguatan moderasi beragama berbasis komunitas.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan bahwa penguatan toleransi harus dibangun secara sistematis dan berkelanjutan. Karena itu, pemerintah kota berkomitmen menyiapkan dukungan regulasi agar program ini tidak berhenti pada tahap simbolik.

Peluncuran resmi dijadwalkan pada 28 Februari 2026. Menariknya, momentum tersebut berdekatan dengan perayaan Cap Go Meh sekaligus bulan suci Ramadan. Perpaduan dua momentum keagamaan itu menjadi pesan kuat bahwa Makassar ingin menegaskan identitasnya sebagai kota yang menjunjung tinggi kebersamaan lintas iman.

Lima kelurahan yang terlibat tersebar di tiga kecamatan, yakni Wajo, Manggala, dan Tamalate. Penetapan lokasi bukan tanpa alasan. Salah satu indikator utama adalah keberadaan rumah ibadah dari berbagai agama dalam satu wilayah—mulai dari masjid hingga kelenteng—yang mencerminkan interaksi sosial lintas keyakinan telah berlangsung secara alami.

Kepala Kantor Kemenag Kota Makassar menyebut, program ini menjadi titik awal untuk mendorong peningkatan Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) di tingkat lokal. Dengan menjadikan kelurahan sebagai pusat gerakan, diharapkan deteksi dini potensi gesekan sosial bisa dilakukan lebih cepat dan partisipatif.

Tak hanya melibatkan tokoh agama, program ini juga menghimpun pemuda lintas agama sebagai agen informasi dan penjaga harmoni di lingkungannya masing-masing. Pendekatan ini dinilai penting karena generasi muda memiliki peran strategis dalam merawat ruang dialog dan mencegah polarisasi sosial.

Melalui langkah ini, Makassar tidak hanya berbicara soal toleransi, tetapi mencoba membangun ekosistem kerukunan yang hidup dan terjaga dari tingkat akar rumput. Jika berhasil, lima kelurahan tersebut berpotensi menjadi model yang dapat direplikasi di wilayah lain.