Tangerang – Di tengah pesatnya arus informasi digital yang sering kali membawa muatan ideologi transnasional, institusi pendidikan berbasis agama kini menjadi garda terdepan dalam upaya membentengi generasi muda. Direktorat Pencegahan Densus 88 Antiteror Polri menggelar inisiatif edukatif bertajuk “SOSBANG SANTUY” (Santri Tangguh Ideologi) yang bertempat di Pondok Pesantren Malika Islamic Boarding School, Tangerang.
Kegiatan ini bukan sekadar sosialisasi formal, melainkan sebuah dialog interaktif yang melibatkan sekitar 300 santri dari jenjang SMP dan SMA. Program ini dirancang untuk menjawab tantangan zaman, di mana radikalisme tidak lagi hanya menyebar melalui pertemuan fisik, melainkan telah bermigrasi secara masif ke ruang-ruang digital yang sulit diawasi secara kasat mata. Kegiatan ini dilakukan pada Selasa (18/2).
Dalam sesi pemaparan materi, Ipda Rudiana Bachrie, S.T., M.M., menekankan bahwa bibit-bibit ekstremisme sering kali bermula dari sikap intoleransi yang dibiarkan tumbuh. Ia memperkenalkan konsep pencegahan terhadap IRET, sebuah akronim yang merujuk pada tiga tahapan bahaya: Intoleransi, Radikalisme, dan Ekstremisme.
Ipda Rudiana menjelaskan bahwa moderasi beragama adalah kunci untuk menjaga keutuhan bangsa. Ia mengajak para santri untuk tidak hanya fokus pada tekstualitas agama, tetapi juga pada konteks sosial dalam kehidupan sehari-hari. “Santri harus menjadi individu yang seimbang, yang mampu mengintegrasikan ketaatan beragama dengan cinta tanah air. Moderasi bukanlah mendangkalkan iman, melainkan memperdalam pemahaman tentang menghargai keberagaman,” tegasnya di hadapan ratusan santri yang antusias.
Salah satu momen paling menggugah dalam acara ini adalah kehadiran Ustadz Umar Khairi. Beliau bukan sekadar narasumber biasa, melainkan seorang mantan narapidana terorisme yang telah berhasil melewati proses deradikalisasi. Ustadz Umar berbagi kisah tentang bagaimana ia dahulu terjerumus ke dalam lingkaran gelap paham ekstrem karena pemahaman yang parsial dan pengaruh lingkungan yang tertutup.
Kehadirannya memberikan motivasi sekaligus peringatan nyata bagi para santri bahwa jalur kekerasan atas nama agama adalah jalan buntu yang hanya menyisakan penderitaan bagi diri sendiri, keluarga, dan umat. Melalui testimoni jujurnya, ia membongkar pola-pola manipulasi psikologis yang sering digunakan kelompok radikal untuk mencuci otak anak muda, terutama melalui narasi ketidakadilan di media sosial.
Santri Sebagai Agen Perubahan
Program “SOSBANG SANTUY” diharapkan mampu mencetak para santri menjadi agent of change atau agen perubahan di lingkungan mereka masing-masing. Di era pasca-kebenaran (post-truth), kemampuan literasi digital menjadi senjata utama bagi santri agar tidak mudah terprovokasi oleh hoaks yang bermuatan radikal.
Dengan pemahaman ideologi yang kokoh, santri diharapkan mampu menjadi penawar bagi narasi kebencian di dunia maya. Pesantren, sebagai pusat peradaban ilmu, kini memiliki tanggung jawab tambahan untuk memastikan bahwa ilmu yang diajarkan selaras dengan semangat persatuan nasional demi menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari ancaman terorisme.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!