Manokwari – Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 di Kabupaten Manokwari, Papua Barat, menjadi momentum istimewa karena berlangsung bersamaan dengan bulan Ramadan bagi umat Islam dan masa Prapaskah bagi umat Katolik. Situasi tersebut dimaknai sebagai ruang memperkuat toleransi dan harmoni antarpemeluk agama.
Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Manokwari, Alexander Irsandi, mengatakan kebetulan kalender tersebut menjadi simbol kuat kebersamaan dalam keberagaman.
“Semoga kebersamaan momen spesial tahun ini semakin memperkuat nilai-nilai toleransi umat beragama dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Alexander di Manokwari, Selasa.
Ia menjelaskan, Imlek 2026 mengusung tema Harmoni Imlek Nusantara. Tema itu menegaskan bahwa Imlek bukan hanya milik warga keturunan Tionghoa, melainkan bagian dari mozaik kebudayaan nasional yang dirayakan bersama seluruh elemen masyarakat.
Menurut Alexander, paguyuban Tionghoa di Manokwari berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam mendukung program pembangunan daerah serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal. Semangat tersebut, kata dia, selaras dengan warna merah yang identik dengan Imlek—melambangkan energi, harapan, dan keberanian untuk maju bersama.
Sebagai wujud kepedulian sosial, PSMTI Manokwari menyalurkan 350 paket sembako kepada pedagang orang asli Papua, khususnya mama-mama Papua. Aksi sosial itu digelar menjelang perayaan Imlek.
“Kegiatan ini bentuk nyata kepedulian kami terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat sekaligus mempererat silaturahmi,” katanya.
Selain pembagian sembako, paguyuban juga menggelar kerja bakti membersihkan area pekuburan Tionghoa di kawasan Pasir Putih Manokwari. Kegiatan tersebut dilakukan untuk menjaga nilai tradisi sekaligus memperkuat kebersamaan komunitas.
Alexander turut menyampaikan apresiasi kepada almarhum Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang dinilai berjasa dalam memperjuangkan hak-hak warga Tionghoa di Indonesia. Ia juga menyinggung keberlanjutan kebijakan tersebut pada masa pemerintahan Joko Widodo.
Menurutnya, kehadiran negara dalam menjamin kesetaraan hak warga berdampak positif terhadap eksistensi paguyuban Tionghoa di berbagai daerah, termasuk di Papua Barat. Hal itu membuat perayaan Imlek dapat berlangsung aman dan terbuka.
“Sekarang warga Tionghoa bisa membaur dengan warga pribumi. Hubungan sosial semakin baik, apalagi setelah masa pandemi COVID-19 yang membuat kita sadar pentingnya saling mendukung,” ujar Alexander.
Ia berharap perayaan Imlek tahun ini tidak hanya menjadi seremoni budaya, tetapi juga memperkuat persaudaraan lintas etnis dan agama di Tanah Papua.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!