Tradisi peumulia jamee (memuliakan tamu) juga dipertunjukan dalam gerakan simbolis Tari Ranup Lampuan, saat penyambutan tamu atau pesta adat dalam tradisi masyarakat Aceh (Foto: Dok. Ist)

Kearifan Lokal Aceh Dinilai Jadi “Firewall Sosial” Cegah Radikalisme

Lhokseumawe – Kearifan lokal Aceh dinilai masih menjadi “firewall sosial” yang efektif dalam mencegah tumbuhnya paham radikalisme dan terorisme di tingkat akar rumput. Struktur sosial gampong, peran ulama, serta otoritas adat disebut sebagai sistem sosial yang secara alami mampu mendeteksi dan meredam potensi konflik sejak dini.

Pandangan tersebut disampaikan Muhammad Nazir dikutip dari laman rri.co,id, Kamis (22/1/2026). Menurutnya, pendekatan berbasis budaya memiliki daya tahan yang kuat karena bekerja di level nilai, norma, dan relasi sosial sehari-hari.

“Di Aceh, adat dan gampong bukan sekadar simbol, tetapi mekanisme sosial yang hidup. Ulama dan tokoh adat menjadi penjaga moral sekaligus mediator konflik,” ujar Nazir.

Ia menjelaskan, nilai-nilai seperti peumulia jamee, musyawarah, dan semangat kebersamaan membentuk modal sosial yang mampu menahan masuknya ideologi ekstrem yang cenderung eksklusif dan intoleran.

Nazir menilai, strategi pencegahan terorisme tidak bisa bertumpu pada pendekatan hukum semata. Penguatan budaya lokal dan pendidikan kewarganegaraan di tingkat komunitas justru menjadi faktor kunci dalam membangun ketahanan sosial jangka panjang.

“Penegakan hukum itu penting, tetapi tanpa kesadaran budaya dan sosial, upaya pencegahan tidak akan maksimal,” katanya.

Dalam konteks generasi muda, Nazir menyoroti media sosial sebagai ruang baru penyebaran ideologi ekstrem. Namun ia optimistis nilai adat dan pendidikan karakter dapat berfungsi sebagai filter sosial jika terus ditanamkan secara konsisten.

“Anak muda perlu dibekali nilai lokal dan kebangsaan agar kritis, tetapi tidak mudah terseret paham kekerasan,” jelasnya.

Ia juga mendorong pemerintah daerah untuk melibatkan tokoh adat, ulama, dan lembaga pendidikan dalam setiap kebijakan pencegahan radikalisme. Menurutnya, kearifan lokal harus diposisikan sebagai pilar utama, bukan sekadar pelengkap program pemerintah.

Nazir berharap generasi muda Aceh terus merawat nilai adat sebagai warisan budaya sekaligus benteng perdamaian di tengah dinamika global yang semakin kompleks.