Guru Besar UMS: Ilmu Tafsir sebagai Basis Etika Kebangsaan

Surakarta – Penegakan hukum positif di Indonesia dinilai belum cukup kuat untuk membendung arus krisis moral yang terjadi di tengah masyarakat. Oleh karena itu, Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Andri Nirwana, Ph.D., mengemukakan Ilmu Tafsir sebagai landasan utama dalam membangun kembali etika kebangsaan.

Pernyataan tersebut disampaikan Andri dalam keterangan resminya yang dikutip pada Selasa (20/01/2026). Ia menekankan bahwa pendekatan legal-formal semata sering kali gagal menyentuh akar permasalahan moralitas bangsa karena hanya bekerja pada tataran aturan dan sanksi lahiriah.

Dalam gagasannya, Andri mendudukkan ilmu tafsir sebagai sebuah sistem penalaran etis yang bersumber dari wahyu. Ia menegaskan bahwa fungsi tafsir melampaui sekadar interpretasi tekstual ayat, melainkan berperan vital dalam menggali nilai moral yang dapat menjadi panduan tindakan korektif bagi persoalan bangsa.

“Tafsir itu bukan sekadar menjelaskan teks Al-Qur’an, tapi menguak nilai-nilai moral di dalamnya. Nilai-nilai itulah yang bisa kita jadikan sumber dalam menyelesaikan problem kebangsaan,” ujar Andri.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa jika etika kebangsaan dibangun di atas basis tafsir yang kuat, maka akan lahir integritas yang kokoh. Masyarakat tidak hanya akan takut pada sanksi hukum, tetapi juga memiliki kesadaran batin untuk tidak mencederai nilai kemanusiaan dan ketuhanan.

Gagasan ini menjadi respons akademisi UMS terhadap berbagai fenomena degradasi moral yang masih marak terjadi. Penguatan nilai spiritualitas melalui sistem penalaran tafsir diharapkan mampu menjadi solusi fundamental bagi perbaikan karakter bangsa.