Digital Nomad dan Wajah Baru Asimilasi: Ketika Gaya Hidup Modern Bertemu Tradisi Lokal

Jakarta – Bergesernya tren penggunaan teknologi dan pemanfaatan ruang digital memiliki pengaruh yang luas terhadap cara pandang generasi muda dalam memilih jenis aktivitas yang mereka lakukan. Tidak hanya persoalan interaksi dan hobi semata, angkatan kerja muda yang saat ini banyak terdiri dari Gen-Z cenderung menginginkan profesi yang tidak lagi terikat dengan kantor secara fisik. 

Keinginan untuk mendapatkan fleksibilitas dalam bekerja tentu bukan tanpa alasan. Selain karena mayoritas pekerjaan “kantoran” kini bisa dikerjakan dimana saja, destinasi wisata yang beragam di Indonesia seolah dapat menjadi penawar bagi kepenatan bekerja di kota-kota besar. 

Jika dilihat dari perspektif perjumpaan budaya, antara Gen-Z yang gemar bekerja sambil berwisata, dengan tradisi masyarakat di tempat tujuan yang jelas berbeda, maka hal ini bisa dikatakan sangat mendukung semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang telah lama dikenal di Indonesia. Jarak yang dulu memisahkan satu budaya dengan yang lainnya, kini semakin tidak berarti karena semakin banyaknya perpindahan generasi muda dari kota-kota besar menuju daerah penyangga, hingga kota wisata.

Gen-Z yang melakukan pekerjaannya secara fleksibel tanpa terbatas lokasi fisik seringkali disebut sebagai “Digital Nomad”. Mereka seringkali mengusung gaya hidup yang serba cepat, tingginya ketergantungan terhadap teknologi, dan tidak jarang pula diasosiasikan dekat dengan nilai-nilai liberal yang cenderung individualis.

Sementara itu, masyarakat di kota-kota yang umumnya menjadi destinasi wisata ataupun yang berada di daerah penyangga, biasanya menganut nilai-nilai yang jauh berbeda ketimbang generasi muda atau Gen-Z yang gemar hidup nomaden. Masyarakat di wilayah tujuan cenderung menghargai nilai-nilai komunal yang sudah ada sejak beberapa generasi sebelumnya, memegang teguh tradisi yang menjadi ciri khas di tempat tersebut, dan lebih menyukai ritme hidup yang tenang.

Perbedaan kedua kelompok ini, antara “pendatang” dengan “tuan rumah”, tentu saja menyimpan konsekuensi yang harus disikapi secara bijak. Baik salah satu ataupun keduanya, cepat atau lambat akan mengalami culture shock atau gegar budaya. Perbedaan yang cukup ekstrem akan dirasakan oleh generasi muda di tempat tujuan, karena adanya disparitas tentang persepsi etika dan kesopanan, cara berpakaian, hingga cara berinteraksi di ruang publik. Hal yang sama juga sedikit banyak akan dirasakan oleh masyarakat yang menyambut dan berinteraksi dengan turis, yang mayoritas masuk dalam kategori usia muda.

Pergeseran pendatang dari kota besar yang relatif terbiasa dengan biaya hidup yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan masyarakat di wilayah pinggiran, rentan menimbulkan gentrifikasi. Singkatnya, gentrifikasi adalah perubahan sosial-ekonomi yang relatif cepat terhadap sebuah kawasan yang mengakibatkan masyarakat lama menjadi terusir.

Perlu kedewasaan dan kesadaran dalam bertindak bagi para generasi muda yang mendatangi wilayah tujuan, yang bisa jadi punya kebiasaan atau adat istiadat tersendiri. Harapannya, kehadiran “pendatang” di wilayah itu tidak disikapi dengan negatif, melainkan menjadi kegembiraan bagi warga di tempat tujuan karena adanya interaksi yang sehat.

Kesantunan yang selayaknya ditunjukkan oleh generasi muda atau Gen-Z yang berkunjung ke wilayah baru dapat mendorong adanya asimilasi budaya, tanpa disertai dengan sifat dominasi salah satu pihak. Jika komunikasi yang baik mampu terbangun, selain dapat menunjang kenyamanan berwisata bagi Gen-Z, juga akan menguntungkan bagi masyarakat lokal untuk belajar hal baru yang dibawa oleh “tamu” mereka. 

Digital nomadism adalah peluang emas untuk memperkuat tenun kebangsaan jika dilakukan dengan sikap rendah hati dan empati. Persatuan bukan berarti penyeragaman gaya hidup, melainkan kemampuan untuk hidup berdampingan secara harmonis antara kemajuan teknologi dan kelestarian tradisi.