Gen Z Dinilai Paling Menghargai Perbedaan dalam Survei Kehidupan Beragama 2025

Jakarta — Generasi Z dinilai sebagai kelompok usia paling toleran dalam kehidupan beragama di Indonesia. Temuan tersebut tercermin dalam Survei Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam 2025 yang dirilis Kementerian Agama, sekaligus memperkuat gambaran bahwa generasi muda semakin terbuka terhadap perbedaan.

Strategic Development Associate Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) Universitas Negeri Semarang, A. Dhiyaul Haq, menilai tingginya tingkat toleransi Gen Z bukan sekadar data statistik, melainkan realitas yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, generasi ini cenderung tidak mempermasalahkan perbedaan identitas, namun tetap menjunjung tinggi sikap saling menghormati.

“Buat Gen Z, toleransi itu soal menciptakan ruang aman, di mana siapa pun bisa menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi atau dipersekusi. Bukan cuma konsep, tapi tindakan nyata,” ujar Dhiya, beberapa hari lalu.

Ia menjelaskan bahwa pembentukan sikap toleran Gen Z dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pendidikan, lingkungan sosial, hingga interaksi lintas identitas yang semakin terbuka melalui media sosial. Menariknya, ia mencatat bahwa tingkat toleransi di wilayah pedesaan justru sedikit lebih tinggi dibandingkan kawasan perkotaan.

“Nilai-nilai keagamaan yang kuat di lingkungan sekitar justru membuat seseorang lebih memahami esensi menghargai sesama. Menghormati orang lain itu bagian dari iman,” kata Dhiya, dikutip dari rri.co.id.

Pengalaman serupa juga ia temui di lingkungan kampus. Diskusi akademik yang melibatkan mahasiswa lintas agama, kata dia, dapat berlangsung cair dan produktif tanpa ketegangan identitas.

Menurut Dhiya, sikap tersebut menunjukkan bahwa Gen Z tidak membawa politik identitas dalam interaksi sosialnya. Mereka mampu melebur dalam perbedaan tanpa kehilangan identitas keagamaannya.

Ia bahkan menyinggung data kemampuan membaca Al-Qur’an di kalangan Gen Z yang mencapai 56,29 persen, tertinggi dibandingkan generasi lainnya. Fakta ini, menurutnya, mematahkan anggapan bahwa toleransi berbanding terbalik dengan religiositas.

“Kami ini contoh bahwa seseorang bisa religius, tapi tetap terbuka, santai, dan menghargai perbedaan,” ujarnya.