112 Siap Pelopori program Penanggulangan Ekstremisme Berbasis
Kekerasan di Kampus

Jakarta – Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi
(Ditjen Diktiristek) Kemendikbudristek melalui Direktorat Sumber Daya
memfasilitasi upaya pencegahan terhadap ekstremisme berbasis kekerasan
yang mengarah pada terorisme di lingkungan perguruan tinggi.

Langkah ini dilakukan dengan menggelar pelatihan bagi dosen (Training
of Trainers) Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis
Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme di lingkungan Perguruan Tinggi.
Program ini merupakan strategi pendekatan lunak (soft approach) untuk
memitigasi ekstremisme berbasis kekerasan dan membangun ketahanan
masyarakat sesuai Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2021.

Direktur Sumber Daya Ditjen Diktiristek Lukman menjelaskan program
pencegahan ekstremisme di lingkungan pendidikan tinggi berfokus pada
upaya pencegahan yang mencakup kesiapsiagaan, kontra radikalisasi, dan
deradikalisasi.

Untuk itu, Direktorat Sumber Daya memberikan dukungan dengan menggelar
TOT bagi para dosen yang akan digelar di tiga regional yaitu
Jakarta-Bogor, Surabaya-Lamongan, dan Solo-Semarang.

“Kita sangat berharap bisa mitigasi terhadap paham-paham yang memang
tidak sesuai dengan budaya kita, tidak sesuai dengan nilai-nilai
Pancasila,” ungkap Lukman saat membuka acara ToT Pencegahan
Ekstremisme Yang Mengarah Pada Terorisme di Jakarta pekan lalu.

“Ini adalah momentum yang tepat, bagaimana kita bisa mempertahankan
merah putih dengan hal-hal yang paling kecil, salah satunya menjadi
duta penanggulangan ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah
terorisme di perguruan tinggi ini agar lebih implementatif,” tambah
Lukman.

Melalui pelatihan ini, sebanyak 112 dosen akan membuat dan memelopori
program penanggulangan ekstremisme berbasis kekerasan di kampus
seperti membuat rencana aksi pencegahan ektremisme berbasis kekerasan,
memasukkan materi/konseptual terkait pencegahan terorisme dan
radikalisme pada kurikulum, melakukan sosialisasi dan
kegiatan-kegiatan lainnya yang sejenis.

Lukman berharap para peserta pelatihan ini dapat menjadi duta kampus
dalam pencegahan ektremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada
terorisme di perguruan tinggi di wilayahnya masing-masing.

“Kami sangat berharap para narasumber ini bisa menyampaikan dengan
bahasa yang memang bisa dipahami oleh kalangan kampus, tidak perlu
dengan bahasa yang rumit, tetapi bahasa yang memang mudah dicerna dan
diimplementasikan,” pungkas Lukman.