Wisudawan Unusia Harus Dapat Implementasikan Moderasi Beragam di Tengah Masyarakat

Jakarta – Wisudawan dan wisadawati VIII Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) harus bisa mengimplementasikan praktik moderasi beragama di tengah masyarakat. Harapan itu dikatakan Sekretaris Koordinator Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (Kopertais) Wilayah I DKI Jakarta dan Banten H Supriyadi Ahmad pada Wisuda VIII Unusia di Gedung Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, pada Kamis (20/1/2022).

“Kementerian Agama sekarang sedang menguatkan implementasi moderasi beragama, maka para wisudawan dan wisudawati harus dapat mengimplementasikan moderasi beragama di tengah-tengah masyarakat,” ujar Supriyadi dikutip dari laman timesindonesia.com.

Ia menjelaskan bahwa yang dimoderasi bukanlah Al-Qur’an dan hadits, tetapi pelaksanaan dalam beragama. Penafsiran atau penakwilan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadits diharapkan dapat terimplementasi secara moderat.

“Tidak ekstrem, tapi juga tidak kolot. Tidak radikal, tapi juga tidak pasif. Ini arti dari moderasi beragama. Teman-teman mahasiswa yang diwisuda hari ini, tentu akan terjun ke masyarakat. Mungkin akan menjadi akademisi, pengusaha, wirausahawan, tetapi dalam menjalankan agama harus moderat. Tidak boleh radikal,” tegas Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Menurutnya, NU yang dikenal sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, selama ini senantiasa mempraktikkan perilaku keagamaan secara moderat. Ia menegaskan, NU tidak ekstrem dan tidak kolot.

“Jadilah sarjana yang bermanfaat untuk umat, bangsa, negara. Jangan pasif. Di masyarakat, anda dinanti. Kiprah anda dibutuhkan untuk menjadi manusia-manusia yang aktif. Tetapi lagi-lagi, tidak boleh radikal. Tidak boleh menyalahkan orang lain yang mungkin cara beragamanya tidak sama dengan kita. Tidak boleh menyalahkan atau mengkafirkan orang lain yang mungkin dalam cara beragamanya, tidak sama dengan kita,” harap Supriyadi.

“Mungkin saja mereka mempunyai madzhab yang berbeda, karena madzhab-madzhab itu juga beraneka ragam dan itu memberikan keleluasaan kita untuk melaksanakan agama secara moderat,” imbuhnya.

Ia mengharapkan pula agar para wisudawan dan wisudawati Unusia dapat berjuang untuk agama, nusa, bangsa, dan negara. Sebab kiprah mereka ditunggu oleh banyak pihak, termasuk masyarakat yang saat ini sedang menderita dalam keadaan pandemi Covid-19.

Supriyadi berpesan, ketika terjun di masyarakat maka terdapat sesuatu yang perlu dipahami dari ajaran Islam. Ia menyebutkan bahwa Islam mengandung dua kategori ajaran. Keduanya itu adalah qath’iyyat dan zhanniyyat.

Qath’iyyat, jelasnya, merupakan ajaran yang bersifat normatif lantaran terdapat dalam teks suci, yakni Al-Qur’an dan hadits. Sebagai contoh, ia mengutip sebuah hadits thalabul ilmi faridhatun ala kulli muslimin wal muslimat (mencari ilmu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan). Selanjutnya, ia juga membacakan QS Al-Mujadalah 11.

“Orang-orang yang berilmu seperti anda semuanya akan diangkat derajatnya oleh Allah beberapa derajat dibandingkan dengan orang-orang yang tidak berilmu. Artinya mencari ilmu itu wajib. Itu qath’iyyat, bagian dari teks Al-Qur’an dan hadits yang dipahami sebagai kewajiban untuk kita. Tidak ada yang membantah bahwa mencari ilmu itu tidak wajib,” terang Supriyadi.

Namun, cara atau proses dalam mencari ilmu itu bersifat zhanniyat yakni selalu berubah-ubah, seiring berjalannya waktu. Ia mencontohkan perubahan cara mencari ilmu dari waktu ke waktu, terutama pada sebelum dan saat pandemi Covid-19 melanda.

Dulu, cara mencari ilmu adalah dengan pertemuan secara langsung. Misalnya seperti di pesantren yang antara kiai dengan santri saling bertemu, dengan metode sorogan. Namun saat ini, seluruh proses pembelajaran dilakukan secara virtual atau pembelajaran jarak jauh (PJJ).

“Cara mencari ilmu berubah-ubah, sesuai dengan perkembangan zaman, itu adalah ajaran Islam yang dikenal dengan zhanniyat atau historisitas,” jelas Supriyadi.

Ia mengingatkan bahwa saat ini dunia sedang memasuki era society 5.0, tak terkecuali Indonesia. Pada era ini, masyarakat harus berinteraksi secara virtual. “Mari kita mulai era society 5.0 ini dari kampus kita tercinta, dari Unusia,” ajaknya.

Diketahui, Unusia telah meluluskan 313 wisudawan bergelar diploma, sarjana, dan magister. Mereka berasal dari enam fakultas dan 18 program studi. Para wisudawan itu sebelumnya telah dinyatakan lulus yudisium pada 2020 hingga 2021. Namun karena pandemi Covid-19 melanda, Unusia baru menggelar prosesi wisuda pada tahun ini.