Waspadai Penyebaran Radikalisme dan Terorisme di Lingkungan Pendidikan

Tanjungpinang – Paham Radikalisme dan terorisme di Indonesia akhir- akhir ini mulai dimoderasi di lingkungan dunia pendidikan. Melalui acara kegiatan Training of Trainer menjadi guru pelopor moderasi beragama sebagai strategi pencegahan terorisme dilaksanakan oleh BNPT dan Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) Provinsi Kepulauan Riau.


Kasubdit Kontra dan Propaganda BNPT, Drs Sujatmiko menjelaskan bahwa kebijakan pemerintah dalam giat pencegahan dan strategi pengembangan paham terorisme dan radikalisme. Pelatihan ToT ini dilaksanakan Badan Nasional Penangulangan Terorisme (BNPT) bekerjasama FKPT Kepri, di aula SMA 4 Kota Tanjungpinang, Rabu (14/4/2022)


Sujatmiko menjelaskan, bahwa ancaman terorisme dan radikalisme itu nyata, terkait secara langsung dengan menyebar lewat buku buku yang berisi dalil menyimpang. Salah satu bukunya, adalah terorisme sebagai langkah Islam, kemudian Whatshapp yang berisi tentang ajakan terorisme.
Msyarakat bisa mengenal lebih dalam mengenai ciri ciri aksi terorisme dan radikalisme ini akan di berikan pada kegiatan ini.Data Penelitian menuliskan, disampaikan Sujatmiko, akar dari radikalisme berawal dari permasalahan salahsatunya agama, dimana agama dijadikan ideologi.


” Paham ini yang salah, sebab agama adalah Wahyu yang sangat mulia, agung dari maha kuasa, bukan ideologi yang dijadikan pandangan politik, namun sangat naif jika dijadikan distorsi hanya kepentingan politik,”ujarnya.


Selanjutnya di beberapa tempat ada kejadian fenomenal di tahun 2018 ada kejadian paham menyimpang, melaksanakan bom bunuh diri bersama keluarga.


“Teori konspirasi sering dimunculkan untuk mengalihkan isu terorisme, karena bisa mengorbankan semua nyawa dalam keluarganya. Ini meski di antisipasi,”katanya.


Kemudian ada kejadian Bom Sibolga di Tahun 2018 lalu, juga begitu ironisnya dimana suaminya meledakan diri dengan bom bunuh diri, istrinya ketakutan serta akhirnya menyerahkan diri. Pemicu lain ada juga bahan ajar, banyak sekali ditemukan ada kata- kata memicu seperti saya rela mati jika agama saya dizolimi, kata kata ini memicu anak anak untuk mengarah kepada perubahan sikap. Serta pada doktrin, lambang-lambang, seperti HTI (meski lembaga sudah di bubarkan).


Dari hasil Survei dilakukan tim kajian tentang toleransi dari siswa SMA di Bandung masih toleran, namun 7,30 persen bersikap intoleransi, dimana menanamkan pikiran intoleran pasif menanggap orang lain kafir, intoleran aktif 2,3 persen inilah kelompok yang bergerak.


Bentuk lainnya terorisme juga menurut peraturan perundangan undangan sparatis Papua, jika masuk terorisme, paham kilafahisme, komunisme, leninisme, ini juga dianggap ancaman terorisme.


Jadi motif yang utama adalah agama, dimana agama yang distorsi yang pemahaman agama yang dangkal, bercampur paham agama dari luar misalkan ISIS, atau paham lain dari mana saja, akan memberikan warna sikap yang merusak warna bangsadisampaikan Sujatmiko, akar dari radikalisme berawal dari permasalahan salahsatunya agama, dimana agama dijadikan ideologi.


” Paham ini yang salah, sebab agama adalah Wahyu yang sangat mulia, agung dari maha kuasa, bukan ideologi yang dijadikan pandangan politik, namun sangat naif jika dijadikan distorsi hanya kepentingan politik,”ujarnya.


Selanjutnya di beberapa tempat ada kejadian fenomenal di tahun 2018 ada kejadian paham menyimpang, melaksanakan bom bunuh diri bersama keluarga.


“Teori konspirasi sering dimunculkan untuk mengalihkan isu terorisme, karena bisa mengorbankan semua nyawa dalam keluarganya. Ini meski di antisipasi,”katanya.


Kemudian ada kejadian Bom Sibolga di Tahun 2018 lalu, juga begitu ironisnya dimana suaminya meledakan diri dengan bom bunuh diri, istrinya ketakutan serta akhirnya menyerahkan diri.


Kemudian pemicu lain ada juga bahan ajar, banyak sekali ditemukan ada kata- kata memicu seperti saya rela mati jika agama saya dizolimi, kata kata ini memicu anak anak untuk mengarah kepada perubahan sikap.
Kemudian pada doktrin, lambang-lambang, seperti HTI (meski lembaga sudah di bubarkan),


Kemudian juga dari hasil Survei dilakukan tim kajian tentang toleransi dari siswa SMa di Bandung masih toleran, namun 7,30 persen bersikap intoleransi, dimana menanamkan pikiran intoleran pasif menanggap orang lain kafir, intoleran aktif 2,3 persen inilah kelompok yang bergerak.
Kemudian bentuk lainnya terorisme juga menurut peraturan perundangan undangan sparatis Papua, jika masuk terorisme,,, paham kilafahisme, komunisme, leninisme, ini juga dianggap ancaman terorisme.


“Jadi motif yang utama adalah agama, dimana agama yang distorsi yang pemahaman agama yang dangkal, bercampur paham agama dari luar misalkan ISIS, atau paham lain dari mana saja, akan memberikan warna sikap yang merusak warna bangsa, ini meski cepat di redam,” katanya lagi.
Kemudian ada juga terorisme yang dikembangkan dari ideologi kita yang secara historis ada di negara kita seperti DII/TIi yang sudah ada dinegri ini,, berniat mendirikan negara dengan konsep Islam, paham ini mendirikan negara diatas negara sebab mereka sudah menyusun pemerintahan, jadi negara diatas negara.


” Mereka mendirikan negara diatas negara, ini juga membahayakan,” katanya.