Waspada dan Antisipasi Kejahatan Terorisme Pasca Berkuasanya Taliban di Afghanistan

Jakarta – Berkuasanya Taliban di Afghanistan mau tidak mau pasti membawa pengaruh ke dunia internasional, termasuk Indonesia. Apalagi, didalamnya juga terdapat isu keagamaan. Selain itu, ada sekitar 7.000 pengungsi Afghanistan di Indonesia. Ditambah lagi, di masa lalu, banyak kombatan Indonesia yang berperang di Afghanistan yang kemudian membentuk jaringan teror bernama Jamaah Islamiyah (JI).

Kondisi itu tentu harus diwaspadai, terutama yang berkaitan dengan pencegahan terorisme. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol. Dr. Boy Rafli Amar, MH, tidak ingin aksi kekerasan yang dilakukan kelompok Taliban di Afghanistan dijadikan contoh oleh masyarakat Indonesia.

“Kekerasan yang dilakukan Taliban bukanlah gambaran jati diri bangsa kita, karena kami menyoroti aksi kekerasan Taliban merupakan salah satu karakter kejahatan terorisme, jadi pasca kemenangan Taliban perlu kita waspadai dan antisipasi,” ujar Boy Rafli dalam lokakarya yang mengangkat tema ‘Meningkatkan Peran Intelijen dalam Mengantisipasi Dampak Konflik di Afghanistan’, di Jakarta, Rabu (29/9/2021).

Karena itu, Boy mengimbau pentingnya sinergi antar pemangku kepentingan baik dari Polri/TNI terutama Densus 88 dan Intelijen untuk memantau situasi. Selain dengan aparat penegak hukum, BNPT juga akan memaksimalkan keterlibatan tokoh agama, melalui gugus tugas Pemuka agama yang dimiliki BNPT.

“Konteks pencegahan akan kami (BNPT) tentu kami tingkatkan, BNPT tetap berhati-hati dan waspada dengan terus menjalin komunikasi dengan stakeholder yang berkaitan, kita upayakan semaksimal mungkin demi Indonesia yang damai dan aman,” katanya.

Selain meningkatkan koordinasi antar Lembaga, Boy Rafli juga menegaskan agar meningkatkan kewaspadaan di media sosial. Mengingat saat ini banyak euforia yang beredar pasca Taliban berkuasa. Untuk itu, BNPT mengambil langkah antisipasi dengan terus melakukan sosialisasi, menyampaikan kepada masyarakat bahwa tetap harus secara hati-hati dalam menyikapi hal-hal yang berkaitan dengan masalah Taliban.

“Kita cegah dengan kontra narasi karena kemenangan Taliban bisa menjadi sebuah inspirasi yang bisa saja membangkitkan semangat radikalisme, kita menerima kenyataan hari ini Taliban telah menjadi menjadi entitas pemerintah di Afghanistan,” ujarnya.

“Yang terpenting adalah jangan sampai contoh-contoh kekerasan yang telah berjalan selama ini itu menjadi sebuah inspirasi bagi masyarakat kita sehingga ini bisa mengganggu suasana kehidupan berbangsa dan bernegara yang tentunya sudah kira rawat dengan menjunjung nilai-nilai kebangsaan kita,” papar Boy Rafli.

Dalam paparannya Kepala BNPT juga menjelaskan aksi terorisme global yang berdampak pada aksi terorisme di Indonesia pasca kemenangan Taliban di Afghanistan. Terutama berkaitan erat dengan aksi terorisme global yang dilakukan oleh kelompok militan ISIS dan Al-Qaeda. Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki riwayat adanya sel-sel kelompok militan Al-Qaeda.

Kekhawatiran ini yang membuat pemerintah Indonesia perlu mengambil langkah konkret untuk mengantisipasi dampak kemenangan Taliban bagi kelompok garis keras yang ada di Tanah Air