Tolak Kedatangan UAS, Cendekiawan Singapura Nilai Negaranya Tidak Islamofobia

Singapura – Seorang cendekiawan Singapura, Dr Norshahril Saat, menilai langkah Singapura menolak Ustaz Abdul Somad (UAS) masuk ke negaranya bukanlah aksi Islamofobia seperti yang ditudingkan oleh pendukung UAS. Diketahui, Dr Norshahril Saat adalah seorang Senior Fellow di ISEAS-Yusof Ishak Institute.

ISEAS-Yusof Ishak Institute adalah sebuah lembaga penelitian dan badan hukum di bawah lingkup Kementerian Pendidikan di Singapura. Norshahril dengan tegas mengatakan bahwa negaranya tidak menolak UAS karena berdasarkan agamanya.

Menurut Norshahril, umat muslim di Singapura dihormati dan sangat bebas untuk beribadah, sehingga Singapura bukanlah negara yang Islamofobia atau menunjukkan kebencian, diskriminasi atau prasangka terhadap umat Islam.

“Intinya adalah bahwa Somad tidak dipilih oleh otoritas Singapura berdasarkan agamanya.”

“Komunitas Muslim berkembang pesat di Singapura dan bebas menjalankan agamanya, dan Pemerintah Singapura menghormati institusi utama komunitas tersebut, termasuk masjid dan sistem pengadilan Syariah,” kata Norshahril dalam sebuah tulisannya yang dimuat oleh Channel News Asia, Senin (23/5).

Akan tetapi, menurut Norshahril, yang dilakukan oleh Singapura murni karena melarang semua perilaku yang berpotensi memecah belah kerukunan umat beragama di negaranya.

“Singapura secara konsisten melarang perilaku apa pun, terlepas dari keyakinan pelaku, yang dapat berpotensi membahayakan kerukunan beragama dan komunal negara tersebut,” terangnya.

Norshahril kemudian menyebutkan salah satu contoh tokoh agama lain yang ditolak masuk ke Singapura karena berpotensi memecahbelah umat Muslim dan Kristen.