Sinergi, Koordinasi, dan Komunikasi Kunci Keberhasilan Deradikalisasi Napiter

Sidoarjo –Sinergi, koordinasi, dan komunikasi yang baik dan kuat menjadi kunci keberhasilan deradikalisasi narapidana terorisme (napiter) yang menghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Surabaya. Dari tujuh napiter penghuni Lapas Kelas 1 Surabaya, termasuk mantan dedengkot Al-Qaeda dan tokoh utama Bom Bali, Umar Patek, ketujuh napiter itu telah berhasil kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hal itu dikatakan Deputi 1 Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Mayjen TNI Nisan Setiadi, SE, saat melakukan kunjungan kerja dalam rangka silaturahim dengan napiter dan petugas lembaga pemasyarakat di Lapas Kelas 1 Surabaya di Porong, Sidoarjo, Jumat (8/4/2022). Acara itu dihadiri Kasubdit Bina Dalam Lapas BNPT Kolonel CZI Roedy Widodo, Kalapas Kelas 1 Surabaya Jalu Yuswo Panjang, juga ketujuh napiter diatas.

“Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 Pasal 43D Ayat (1), dalam pelaksanaan deradikalisasi di Indonesia, BNPT memerlukan kerjasama dengan berbagai pihak terkait, baik kementerian/lembaga, akamdemi, maupun stake holder terkait. Kerjasama ini akan berjalan efektif bila terdapat persepsi yang sama sehingga kegiatan dalam berbagai tahapan deradikalisasi dapat terlaksana maksimal,” ujar Nisan.

Nisan mengungkapkan bahwa kegiatan yang dilaksanakan itu merupakan implementasi kerjasama dalam meningkatkan sinergi, koordinasi, dan komunikasi antara BNPT dengan Kementerian terkait. Diharapkan peran aktif dari kementerian/lembaga terkait dalam program deradikalisasi dapat semakin mengoptimalkan keberhasilan program tersebut.

“Saya berharap dengan silaturahim dan buka puasa bersama ini dapat lebih terjalin kerjasama yang lebih erat antara BNPT dan lembaga terkait, khususnya Lapas Kelas 1 Surabaya dalam melaksanakan program penanggulangan terorisme yaitu deradikalisasi dalam Lapas dan Rumah Tahanan Negara (Rutan),” terang Nisan.

Ia optimis bila sinergi ini terjalin makin baik, akan terbentuk kesamaan persepsi program deradikalisasi dengan para Kalapas dan pamong. Juga terjalin komunikasi intensif mengenai perkembangan situasi dan kondisi napiter secara berkala.

Nisan mengaku senang dan memberikan apresiasi tinggi kepada Umar Patek dkk yang telah kembali ke NKRI. Apalagi ketujuh napiter itu sudah langganan menjadi petugas upacara setiap Peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia (RI).

“ Alhamdulillah tujuh orang napiter di sini sudah kembali ke NKRI, sudah mengakui pemerintah yang sah Indonesia sesuai dengan founding fathers bangs Indonesia yaitu ada empat Konsensus berbagnsa dan bernegara yaitu Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI,” tutur Nisan.

Mantan Komandan Pusat Kesenjataan Artileri Pertahanan Udara (Pussenarhanud) TNI AD ini berharap, para napiter tetap semangat tinggi menjalani program deradikalisasi dan tidak turun moril. Ia berjanji akan berusaha membantu menjembatani harapan para napiter terkait masalah hukuman.

“Tadi saya sudah komunikasi dengan mereka. Intinya intinya saya akan membantu mendukung keingingn mereka yaitu ada hal positif terkait dengan putusan hukuman. Kami selaku leading sector pencegahan tindak pindana terorisme akan membantu dengan koordinasi dengan Dirjen Lapas dan lembaga terkait,” kata Nisan.

Kalapas Kelas 1 Surabaya Jalu Yuswo Panjang menambahkan bahwa kerjasama pihaknya dengan BNPT ini sangat luar biasa dan dalam waktu panjang dalam menjalankan program deradikalisasi.Ia mengaku program itu tidak mudah.

“Keberhasilan tujuh kembali ke NKRI itu berkat sinergi dan saling support yang kuat dari kami dan BNPT. Mudah-mudahan ini terus terjaga,” tegasnya.

Jalu menyampaikan bahwa Umar Patek dkk sudah pantas untuk hidup di tengah-tengah masyarakat. Itu intinya, mereka sudah cukup baik. “Kami sehari-hari dengan mereka. Kami dengan mereka sama yang membedakan kami badannya di luar tapi pikirannya di dalam, tapi mereka badannya di sini tapi pikirannya di luar,” tutur Jalu.

Ia berjanji bersama Deputi 1 BNPT untuk terus mendorong agar para napiter yang sudah menjalani hukuman lebih dari 17 tahun itu diproses remisi perubahan pidana. Ia menilai dan menjamin bahwa para napiter itu sudah pantas hidup di tengah-tengah masyarakat.

“ Itu harapan kami untuk kami bisa mendorong, BNPT mendorong agar ada kejelasan,” tukas Jalu.

Sementara Umar Patek mewakili rekan-rekannya mengaku bersyukur bersyukur kepada Allah dan terima kasih atas kunjungan Deputi I BNPT atas kesediaannya mengunjungi mereka di Lapas, sekalipun diakui mereka adalah orang-orang yang pernah berbuat salah, berbuat dosa.

“Namun beliau ini masih mau memperhatikan kami. Harapannya kepada napiter di Indonesia di tempat lain bisa dikunjungi. Pada hakekanya napiter dan mantan napiter adalah manusia biasa memilii hati . Mereka bukan makan batu atau besi, tapi makan nasi, sana seperti manusia lain,” ucap Umar Patek.

Ia yakin bisa para napiter dirangkul, insya Allah mereka mau menjadi NKRI kemudian saling bekerjasama dibawah satu atap untuk menjaga perdamaian dan keutuhan Indonesia.

“Saya berpesan, kerja dalam menderadikalisasi napiter adalah kerja semua, bukan salah satu pihak, bukan NBPT saja, bukan Lapas saja, tapi semua,” imbuhnya.

Paling utama, Patek berharap pemerintah memperhatikan napiter yang status hukumnya seumur hidup agar dipertimbangkan khususnya yang sudah NKRI, diperhatikan perubahan hukuman mereka sehingga bisa turun ke-20 tahun, dan kemudian bisa keluar.