Sejak Dipimpin Para Wijayanto, JI Ubah Strategi Dengan Bergerak Lewat Organisasi Resmi

Jakarta – Sejak dipimpin Para Wijayanto pada 2008, organisasi teroris Jamaah Islamiyah (JI) bertransformasi dan mengubah strategi pengembangan diri. Di atas permukaan mereka bergerak lewat organisasi resmi baik di pemerintahan maupun yang dimiliki masyarakat.

“Tapi organisasi bawah tanah mereka juga tetap berjalan. Yang bawah tanah merupakan organisasi kombatannya. Sedangkan yang di atas permukaan organisasi dakwah hingga partai politik, seperti PDRI (Partai Dakwah Rakyat Indonesia),” kata Direktur Pencegahan Badan Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid, SE, MM, di Jakarta, Kamis (2/12/2021).

Nurwakhid menjelaskan, di tampuk kepemimpinan Para Wijayanto yang sudah ditangkap dua tahun lalu, Jamaah Islamiyah mengembangkan strategi tamkin dan takiah. Strategi tamkin merupakan upaya penguasaan wilayah dengan menyusup ke seluruh lini dengan masuk ke institusi negara maupun masyarakat.

Sedangkan takiah merupakan siasat menyembunyikan jati diri maupun agenda mereka. Kedua strategi yang dikembangkan mereka ini mendapat pembiayaan dari lembaga amal yang dikelola Farid dan An Najah.

“Jadi pendanaan mengalir untuk berbagai kegiatan itu semuanya,” ujarnya.

Selain itu, aliran dana yang mereka kumpulkan juga terlacak untuk mendanai anggota Jamaah Islamiyah atau kombatan mereka yang berada di luar negeri.

“Aliran dana ini merupakan bagian dari penyidikan yang nanti akan diungkap polisi,” ucapnya.

Saat ini, lanjut Nurwakhid, BNPT bersama Detasemen Khusus Antiteror atau Densus 88 Polri bekerja sama dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan sedang melacak aliran dana Baitul Mal Abdurrahman Bin Auf. Aliran dana dari lembaga itu diduga tersalurkan ke jaringan teroris Jamaah Islamiyah.

Adapun lembaga zakat BM ABA dikelola oleh dua tersangka teroris yang terafiliasi dengan Jamaah Islamiyah. Mereka adalah Ketua Umum Partai Dakwah Rakyat Indonesia Farid Okbah dan anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ahmad Zain An Najah. Farid dan An Najah merupakan dewan syariah lembaga amal BM ABA.

“Penyidik sudah melacak aliran dana yang dikumpulkan Farid dan An Najah melalui lembaga amal BM ABA,” kata Nurwakhid

Keduanya telah ditangkap pada 16 November 2021. Selain mereka, Densus 88 juga menangkap dosen Universitas Ibnu Khaldun Bogor Anung Al-Hamat atas sangkaan yang sama.

Nurwakhid menjelaskan bahwa dana sumbangan yang dikumpulkan melalui lembaga amal tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan operasional dan pengembangan Jamaah Islamiyah. Uang tersebut diduga mengalir ke berbagai lembaga organisasi yang dibentuk oleh jaringan teroris tersebut.

“Aliran dana dari BM ABA untuk pembiayaan operasional Jamaah Islamiyah nanti akan diungkap polisi,” pungkasnya.