Sama-sama Anggap ISIS Sebagai Musuh, Taliban Peringatkan AS Hentikan Operasional Drone di Afghanistan

Kabul – Taliban mengeluarkan peringatan keras terhadap Amerika Serikat (AS), meminta negara itu berhenti mengoperasikan pesawat tak berawak atau drone milik mereka di atas wilayah udara Afghanistan.

“AS telah melanggar semua hak dan hukum internasional serta komitmennya kepada Taliban di Doha, Qatar, dengan pengoperasian pesawat tak berawak ini di Afghanistan,” kata Taliban dalam sebuah pernyataan di Twitter, dikutip Reuters, Rabu (29/9).

“Kami menyerukan kepada semua negara, terutama Amerika Serikat, untuk memperlakukan Afghanistan sesuai dengan hak, hukum dan komitmen internasional, untuk mencegah untuk mencegah konsekuensi negatif apa pun,” sambung pernyataan tersebut,

Pejabat Amerika Serikat tidak segera tersedia untuk berkomentar mengenai peringatan yang dikeluarkan Taliban.

Kelompok Taliban kembali berkuasa di Afghanistan bulan lalu, setelah sebagian besar militer AS dan Barat lainnya pergi, mengakhiri misi militer dan diplomatik yang dimulai segera setelah serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat.

Para pejabat AS, yang prihatin atas kebangkitan Al-Qaeda dan penguatan afiliasi ISIL (ISIS) di Afghanistan, telah berulang kali mengatakan AS akan mempertahankan kemampuan ‘over-the-horizon’ dalam menanggapi ancaman di Afghanistan.

Sementara, para pemimpin Taliban menyangkal ISIS dan militan Al-Qaeda aktif di negara itu, meskipun ISIS baru-baru ini mengaku bertanggung jawab atas serangan bom di kota timur Jalalabad.

Sebagai bukti keseriusan memerangi terorisme, Taliban menangkapi sekitar 80 anggota ISIS Khorasan (ISIS-K) atau ISKP, hingga menghabisi tokoh-tokoh ISIS-K seperti Abu Omar Khorasani dan Farooq Bengalzai, seorang pemimpin ISIL dari Pakistan, mengutip Al Jazeera 27 September.

Pengamat mengatakan, strategi akan bergantung pada pemantauan intelijen berbasis teknologi dan serangan yang diluncurkan dari luar negeri. Masih belum jelas bagaimana AS akan menavigasi strategi dalam menghadapi oposisi Taliban.

Baik AS dan Taliban menganggap ISIS-K sebagai musuh, menawarkan kemungkinan kerja sama. Namun, para kritikus mengatakan Taliban bermain berlebihan dengan kemampuannya untuk memerangi kelompok itu, yang telah dijanjikan untuk dibasmi.

ISKP telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan 26 Agustus di bandara internasional yang saat itu dikuasai AS di Kabul dan baru-baru ini serangan bom di kota timur Jalalabad.

Sementara itu, para pemantau hak asasi manusia telah memperingatkan bahwa serangan “over-the-horizon” dapat menimbulkan korban yang lebih besar pada warga sipil daripada yang dilakukan berdasarkan pengumpulan intelijen di lapangan.

Menambah kekhawatiran itu adalah serangan drone alias pesawat tak berawak AS pada 29 Agustus di Kabul yang kemudian diakui Washington menewaskan 10 warga sipil, dan bukan anggota ISKP.