Rangkaian Penangkapan Terduga Teroris Jelang Nataru Untuk Antisipasi Ancaman Teror

Rangkaian Penangkapan Terduga Teroris Jelang Nataru Untuk Antisipasi Ancaman Teror

Jakarta – Densus 88 Antiteror Polri gencar menangkap terduga teroris menjelang Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 (Nataru). Penangkapan anggota kelompok radikal itu untuk mengantisipasi ancaman teror.

“Telah disampaikan bahwa Densus 88 secara terus menerus (menangkap) dalam rangka mengantisipasi (ancaman teror),” kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan Jumat (24/12/2021).

Ramadhan menambahkan bahwa penangkapan terduga teroris tidak terkait dengan hari-hari tertentu. Tim Densus setiap saat mengidentifikasi pihak-pihak yang diduga terlibat jaringan teroris.

“Jadi, setiap saat melakukan identifikasi, setiap saat melakukan pengembangan,” ungkap Ramadhan.

Dia menyebut upaya itu untuk mencegah dan mengantisipasi rencana-rencana teroris. Hal itu demi menjaga keamanan dan melindungi warga negara dan bangsa Indonesia dari ancaman teror.

“Jadi, tidak melihat hari-hari tertentu, secara terus menerus Densus 88 akan melakukan kegiatan dalam rangka menciptakan situas aman di negara Indonesia,” ujar Ramadhan.

Densus menangkap delapan terduga teroris di tiga wilayah Indonesia pada 21-22 Desember 2021. Rinciannya, tiga tersangka berinisial AZE, RT, dan MS ditangkap di Kalimantan Tengah pada Selasa, 21 Desember 2021. Ketiga terduga teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) itu berencana melakukan teror dalam waktu dekat.

“Hasil pemeriksaan, pelaku teror sedang merencakan pembelian senjata dengan persiapan idad atau pelatihan fisik militer dan menembak. Serta di dalam penyelidikan dan penyidikan, Densus menemukan perencanaan yang dilakukan kelompok ini dalam melakukan teror Tanah Air,” kata Ramadhan.

Kemudian, dua tersangka ditangkap di Kalimantan Selatan pada Rabu, 22 Desember 2021. Mereka berinisial SU dan MR. Keduanya juga berafiliasi dengan JAD.

Lalu, tiga tersangka AP, RR, dan NT ditangkap di Jawa Tengah pada Rabu, 22 Desember 2021. Ketiga terduga teroris jaringan Jamaah Islamiyah (JI) itu menguasai bidang Informasi dan Teknologi (IT).