Radikalisme dan Terorisme Tidak Bisa Lepas dari Potret Lingkungan Masyarakat

Jakarta – Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto menilai, dalam aspek radikalisme dan terorisme, tidak bisa dilepaskan dari potret lingkungan masyarakat. Dia mencontohkan, aksi teror yang terjadi pada Mei 2018 di Surabaya, Jawa Timur. Ia menilai hal itu merupakan puncak gerakan radikalisme.

Hal itu diungkapkan Hasto dalam webinar Partai Perindo bertajuk “Tantangan, Radikalisme dan Konsolidasi Demokrasi”, Selasa (23/11/2021).

“Ketika satu keluarga terpengaruh ideologi kegelapan karena keyakinan ekstrem lalu mereka melakukan bom bunuh diri satu keluarga. Dan ini baru pertama kali terjadi di Indonesia bahkan di dunia yang melibatkan anak-anaknya dalam aksi bom bunuh diri,” kata Hasto.

Menurut Hasto, aksi teror ini seharusnya menggugah kesadaran. Hal itu mengingat Indonesia mrupakan bangsa dengan rekam jejak, sejarah, dan memiliki basis-basis kultural untuk mampu mengatasi bentuk perbedaan dan mampu melakukan jalan musyawarah di tengah perbedaan.

Iajuga menyebut intoleransi juga menguat. Berdasarkan hasil survei persepsi terhadap pemimpin politik dari akar rumput, pemimpin politik juga dinilai terkait hal-hal mendasar, bagaimana pendirian tempat-tempat ibadah, bagaimana muncul rasa respek terhadap tradisi yang hidup di nusantara.

Seperti misalnya tabur bunga di laut, di gunung, dan juga yang terjadi Bantul memunculkan keprihatinan masalah intoleransi sebagai akar radikalisme dan terorisme sungguh terjadi.

“Termasuk yang terjadi di Jateng. Potret masyarakat yang kemudian berbagai gerakan-gerakan yang sbenarnya kalau kita telusuri menyediakan begitu banyak fakta, bagaimana persoalan mengelola perbedaan terutama dari aspek suku, agama, kepercayaan itu jadi persoalan yang sangat serius di Indonesia,” ujar Hasto.

Ia memaparkan, kelompok jihadis dalam melakukan serangan, akarnya tidak hanya dalam negeri, tetapi memiliki mata rantai dengan berbagai masalah geopolitik dunia. Seperti di antaranya, terkait dengan masalah Afganistan, ISIS, Palestina, yang direspons secara ekstrem dengan gerakan-gerakan yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

Hasto menjelaskan bagaimana jejaring dari berbagai bentuk hubungan internasional, keterlibatan kelompok-kelompok internasional dalam radikalisme dan terorisme yang terjadi di Indonesia.

Hasto menambahkan, mengacu pada pakar keamanan dunia, Barry Buzan menangkap bagaimana pasca perang dingin, aspek ancaman politik, lingkungan ekonomi, dan sosial jauh lebih dominan daripada militer itu sendiri, termasuk masalah terorisme-radikalisme.

Kemudian, kata Hasto, Jessica Stern menegaskan dalam bukunya yang berjudul Terror in the Name of God, jelas memang akar persoalannya itu kemiskinan, penindasan, dan yang terutama penghinaan yang begitu panjang. Aksi terorisme itu digunakan dengan berbagai ekstremis agama dengan isu-isu keadilan.

“Meskipun dari tesis ini membuktikan bahwa apapun tema yang dipakai untuk gerakan teror karena sifatnya anti kemanusiaan, bentuk gerakan itu bentuk manipulatif terhadap berbagai agama yang dicampurkan dengan kekuasaan agama, baik itu Islam, Yahudi, Kristen. Berbagai legitimasi agama dijadikan motivasi dan pembenaran atas kejadian teror mereka,” tutur Hasto.