Pupuk Terus Semangat Kebangsaan Generasi Muda Untuk Bentengi Generasi Muda dari Ideologi Terorisme

Batu – Generasi muda adalah aset masa depan bangsa. Karena itu, generasi muda harus terus dipupuk jiwa dan semangat kebangsaan agar mereka tidak menjadi generasi diorientasi bangsa di tengah ancaman ideologi radikal terorisme. Untuk itu, para tokoh masyarakat, tokoh agama, termasuk para aparat desa memperkuat sinergi dalam melakukan deteksi dini terhadap penyebaran ideology radikal terorisme kepada masyarakat, terutama generasi muda.

“Kita harus jaga semangat kebangsaan generasi muda agar tidak menjadi generasi disorientasi kebangsaan. Kita khawatir kalau dibiarkan nanti generasi mendatang kurang memahami bangsanya sendiri,” ujar Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. Dr. Boy Rafli Amar, MH, di Batu, Jawa Timur, Kamis (14/7/2022).

Hal itu disampaikan Kepala BNPT pada kegiatan Silaturahmi & Dialog Kebangsaan Dalam Rangka Pencegahan Paham Radikal Terorisme di Graha Pancasila, Komplek Kantor Walikota Batu. Kegiatan itu dihadiri Wakil Walikota Batu Punjul Santoso, jajaran pejabat BNPT yaitu Deputi Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi Mayjen TNI Nisan Setiadi, Direktur Pencegahan Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid, Direktur Kerjasama Bilateral Brigjen Pol Kris Erlangga, Kasbudit Kontra Proganda Kolonel Pas Drs. Sujatmiko, Danrem Baladhika Jaya Kolonel Inf Yudhi Prasetiyo, Kapolresta Batu AKBP Oskar Syamsuddin serta jajaran Forkopimda Kota Batu.

Kegiatan itu diikuti ratusan tokoh masyarakat, tokoh agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Penghayat Kepercayaan serta perangkat kecamatan dan desa se-Kota Batu.

Kepala BNPT menguraikan bahwa dialog kebangsaan ini adalah sebagai silaturahmi antara BNPT dan tokoh agama, masyarakat, pemuda, dan perempuan. Kegiatan ini sangat sebagai sarana untuk bisa saling berbagi terhadap hal-hal perlu diwaspadai oleh masyarakat, terutama mewaspadai penyebarluasan ideologi terorisme yang banyak bertentangan dengan nilai-nilai yang ada di Indonesia.

Diharapkan dengan kegiatan ini para peserta lebih memahami ciri-ciri ideologi terorisme antara lain anti terhadap konstitusi, ideologi negara kita, bersifat eksklusifisme, intoleran radikal, kemudian juga anti nilai-nilai kemanusiaan, kecendurungannya menghalalkan kekerasan. Setelah itu peserta harus meng-share kepada masyarakat.

“Pertemuan hari ini seperti biasa kami berkeliling kemanapun karena tugas kami adalah mengingatkan. Karena prioritas utama tugas BNPT adalah bagaimana membangun semangat mitigasi terhadap aksi terorisme yang diawali sikap intoleransi dan radikalisme ini bisa diminimalisasir, bahkan kalau perlu ditiadakan dari bumi NKRI,” jelas mantan Kapolda Papua ini.

Untuk melakukan program-program seperti ini, lanjut Boy Rafli, memerlukan sebuah kebersamaan. “Kita tidak bisa menganggap ini tugas satu institusi saja, tetapi ini adalah sebuah kerja-kerja yang memerlukan sinergitas, kolaborasi, pendekatan komprehensif, sehingga membangun kesadaran yang bersifat kolektif yang akan menjadi daya tahan bangsa kita,” paparnya.

Ia mengungkapkan, dengan daya tahan kolektif yang dilandasi kesadaran warga negara akan adanya hal-hal yang membahayakan akan menjadi hal yang sangat baik.” Inilah yang kita jadikan setiap dialog kebangsaan dan silaturahmi kita terhadap selruh unsur pemuka agama, masyarakat, dan unsur pemerintahan di Indonesia,” imbuhnya.

Boy Rafli menjelaskan, bahwa ideologi terorisme tidak mengenal etnis, agama, usia, profesi. Mereka melakukan penyebarluasan ideologi terorisme biasanya mempengaruhi kalangan masyarakat usia muda. Ia menilai BNPT dan seluruh masyarakat perlu menyiapkan agar generasi muda Indonesia agar tidak semakin terbawa, terlena, tidak sadar, dan bagian dari kegiatan yang mereka (kelompok radikal terorisme) rencanakan.

“Diawali dengan narasi-narasi yang awalnya mengundang simpati, yang akhirnya menghalalkan kekerasan untuk mencapai tujuan. Itu yang menjadi ciri khas ideology terorisme,” ungkapnya.

Boy Rafli menguraikan, ideologi terorisme sangat mengancam keutuhan bangsa. Ironisnya, untuk menyebarkan paham kekerasannya itu, kelompok radikal terorisme menggunakan dalil-dalil agama.

“Jadi ideoogi terorisme sebenarnya pihak-pihak yang menyalahgunaan agama karena kekerasan yang mereka anut sejalan dengan nilai agama,”tuturnya.

Ia memberi contoh tokoh teroris Dr Azahari yang tertembak mati oleh aparat kepolisian di Kota Batu, 9 November 2005. Dia memanfaatkan generasi terpelajar dan meracuni mereka dengan ideologi terorisme. Awalnya dia mengajak anak muda-muda dengan menyampaikan dakwah yang menarik. Saat orang tertarik, mereka kemudian menanamkan doktrin-doktrin yang menghalalkan kekerasan.

“Itu kita harus mewaspadai. Hari ini kita silaturahmi dan dialog kebangsaan ini utuk kembali mengingatkan kepada kita semua, kalau hari ini kita sudah memahami itu ancaman itu tentu sangat bagus, tapi bagaimana dengan generasi muda kita,” ungkapnya.

Ia berharap, silaturahmi dan dialog kebangsaan tidak berhenti di kegiatan ini. Untuk itu ia mengajak para tokoh masyarakat, tokoh agama, dan para apartur desa bisa menyampaikan ke masyarakat, lingkungan, dan keluarga. Diharapkan dengan demikian semangat nasionalisme anak bangsa semakin kuat.

Lebih lanjut, Boy Rafli menggarisbawahi generasi muda sebagai kelompok paling rentan terpapar ideologi terorisme yang menjauhkan generasi muda dari bangsa dan negaranya, bahkan dimanfaatkan untuk memusuhi negaranya sendiri. Hal ini, lanjutnya, berbeda dengan leluhur bangsa, termasuk ulama, saat berjuang melawan penjajah.

“Jadi ini adalah kesesatan tidak boleh terjadi. Oleh karena nya kita bersyukur. Kami BNPT mengajak untuk terus mengembangkan kepedulian kepada generasi muda agar tidak tersesat. Dan tidak tahu kemana arah bangsanya kedepan,” ungkapnya.

Ia pun kembali mengajak semua pihak untuk merefresh ideologi kekerasan tersebut agar apa yang terjadi di Timur Tengah dengan Arab Springs-nya tidak terjadi di Indonesia. Negara-negara seperti Tunisia, Libya, Yaman, Suriah, Irak, hancur akibat perang saudara dan konflik kebencian. Padahal di negara-negara itu hanya satu agama yaitu Islam. Negara-negara itu hancur akibat ideologi terorisme sehingga tidak ada satu ideologi yang menyatukan sehingga mudah terjadi perpecahan.

“Kita banyak memiliki warisan besar nilai-nilai luhur dari leluhur kita. Kalau keunggulan ini tidak dipahami dan dimengeri dengan baik, kita akan jadi bangsa yang mudah dipengarhui oleh kepentingan bangsa lain. Karena Indonesia kaya sumber daya alam, energi, ini disebut jadi wilayah perebutan negara yang mengincar sumber daya alam,” terangnya.

Karena itu, BNPT mengajak semua pihak untuk tegas lurus dengan tujuan negara Indonesia yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945 yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Untuk menuju tujuan negara itu, menurut Boy, dibutuhkan suatu nasional resilience atau ketahanan nasional berupa ideology, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan keamanaan (Ipoleksobud hankam). Sehingga ketika apapun ancaman atau pengaruh buruk, gangguan dan hambatan yang datang dari eksternal bangsa Indonesia mempunyai pertahanan yang baik.

“Termasuk virus radikal terorisme, perlu dimbangi dengan pertahanan yang prima. Kalau kita tidak menyadarai virus radikal terorisme, bisa mendapat tempat di tengah masyarakat,” katanya.

Ia juga mengajak semua pihak untuk komit dengan konsensus kebangsaan yaitu Pancasila, NKRI, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. “Dan satu lagi kita harus memiliki moderasi beragama yang baik, juga ditumbuhkembangkan semangat persaudaraan.

Pada kesempatan itu, Boy Rafli menjelaskan saat ini BNPT tengah mengembangkan konsep Pentahelix dengan bersineri dengan pemerintah/lembaga, akademisi, masyarakat, dunia usaha, media. Kelima pihak ini di yakini bisa menjadi alat dalam menumbuhkembangkan ketahanan bangsa.  Juga menjadi pelaku yang dapat melakukan filterisasi terhadap pengaruh buruk ideolgi terorisme.

Wakil Walikota Batu Punjul Santoso mengatakan, Pemerintah Kota (Pemkot) Batu telah melaksanakan pencegahan radikalisme secara dini, dengan berbagai forum masyarakat, pusat pendidikan, penguatan wawaasan kebangsaan sebagai upaya untuk penanganan sosial radikalisme. Namun, ia mengakui pemerintah tidak bisa berjalna sendiri, sehingga perlu sinergi tiga pilar plus yaitu Babaisa, Babinkhabtimas, dan seluruh elemen masyarakat.

“Kolaborasi dan sinergitas sangat diperlukan untuk menghadapi ancaman dan tantangan, agar bangsa Indonesia dapat tumbuh dan berkembang dengan negara lain,” ungkap Punjul.

Selain itu, lanjut Punjul, vaksinasi ideologi sangat dibutuhkan untuk melawan potensi pecah belah bangsa. Caranya dengan meningkatkan wawasan kebangsaan sehingga masyarakat bisa memiliki rasa bela negara dan cinta tanah air.