Pupuk Rasa Cinta Tanah Air dan Persatuan Untuk Bentengi Diri dari Ideologi Intoleran dan Radikalisme

Medan – Mahasiswa sebagai generasi muda harapan bangsa harus terus memupuk rasa cinta tanah air, bela negara, serta persatuan dan kesatuan untuk membentengi diri dari ancaman virus intoleran, radikalisme dan terorisme. Ini penting karena di era digital sekarang ini, mahasiswa sangat rentan terpapar ideologi transnasional yang hanya ingin memecah belah keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Adik-adik mahasiswa dan mahasiswi jangan mudah diadu domba dan dipecah belah oleh virus intoleransi, radikalisme, dan terorisme tersebut. Tingkatkan terus persatuan dan kesatuan karena Indonesia ini sangat luar biasa,” ujar Deputi Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Mayjen TNI Nisan Setiadi, SE, saat memberikan Kuliah Umum Dalam Rangka Pencegahan Radikalisme dan Terorisme di Universitas Prima Indonesia (Unpri), Medan, Sumatera Utara, Selasa (29/8/2022).

Menurut Nisan, penguatan rasa cinta tanah air, bela negara, dan wawasan kebangsaan menjadi benteng yang kuat untuk menangkal penyebaran virus intoleran, radikalisme, dan terorisme. Terutama bagi para mahasiswa yang sangat akrab dengan dunia maya. Seperti diketahui dunia maya (digital) menjadi penyebaran virus-virus tersebut yang sangat massif.

Menurutnya, ada empat vaksin yang sangat manjur untuk membentengi generasi muda bangsa dari virus-virus tersebut di atas. Pertama NKRI harga mati. Kemudian Undang-Undang Dasar (UUD) q945 sebagai landasan konstitusi. Ketiga Pancasila sebagai ideologi bangsa, keempat nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika. Ditambah satu lagi yaitu peningkatan moderasi beragama.

“Jadi kita semua harus bisa menciptakan Indonesia yang tangguh, maju, dan jaya. Jangan mau dipecah belah oleh kepentingan siapapun. Kalian itu saudara, bukan satu darah, bukan satu agama, tapi saudara satu bangsa,” tukas Nisan.

Ia menguraikan, bahwa Indonesia didirikan dengan susah payah dan Indonesia merdeka bukan karena pemberian dari penjajah, tapi diperjuangkan para pahlawan bangsa. Bukan hanya harta dan benda, tetapi nyawa.

“Jadi founding fathers kita sudah merebut dan mempertahankan. Sekarang kita tinggal mengisi. Kalau kita yang mengisi gak benar, nanti negara kita akan tercabik-cabik menjadi negara pecahan. Termasuk oleh ideologi intoleran dan radikalisme yang mau mendirikan Indonesia menjadi negara agama,” terang Komandan Pussenarhanud TNI-AD ini.

Ia berharap, melalui kegiatan kuliah umum ini, para mahasiswa, khususnya mahasiswa dan mahasiswa Unpri Medan bisa meningkatkan rasa cinta tanah air, bela bangsa, dan semakin mencintai Indonesia. Mereka juga bisa melanjutkan perjuangan dan cita-cita para founding fathers bangsa.

“Founding fathers bangsa mendirikan negara ini dengan sangat luar biasa dengan empat pilar kebangsaan yaitu Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Kalau kita dulu mendirikan negara berdasarkan agama, mungkin Bali gak mau masuk Indonesia, mungkin Papua tidak mau, Maluku, bahkan mungkin Sumatera Utara (Medan) juga tidak mau,” tutur Nisan.

Nisan menegaskan, bahwa Pancasila itu sangat luar biasa. Ia mencontohkan saat melakukan kunjungan ke Belgia, Belanda, dan Luxembourg. Menurutnya, tiga negara itu dulu satu negara, tetapi mereka pecah akibat perbedaan paham agama.

Ia juga mengaku pernah ke Rusia yang dulu bernama Uni Soviet. Sama juga, Uni Soviet pecah karena beda paham agama. Juga Korea Utara dan Korea Selatan, mereka pecah karena beda paham ideologinya.

“Kenapa negara-negara itu pecah? Karena mereka tidak memiliki ideologi yang kuat seperti Pancasila,” tegas Nisan.

Ia menegaskan lagi bahwa Pancasila adalah ideologi terbaik dan seluruh anak bangsa harus bersatu untuk untuk melawan ideologi-ideologi transnasional, terutama ideologi agama, yang ingin menggantikan Pancasila. Pasalnya agama hanya dijadikan kedok kelompok teroris untuk mewujudkan tujuannya.

“Karena teroris tidak ada hubungannya dengan agama. Mereka menggunakan jubah atau ayat-ayat agama untuk kepentingannya, tapi tidak ada agama apapun yang menghalalkan pembunuhan, kekerasan, tidak ada. Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan dan menghalalkan darah orang lain mengkafirkan orang lain,” ungkapnya.

Selain itu, lanjutnya, penguatan moderasi beragama juga sangat penting. Bagaimana seluruh anak bangsa menjunjung tinggi toleransi. Pemahaman ini harus terus diberikan, khsusnya pada para mahasiswa dan mahasiswa. Ini penting

Nisan juga memaparkan konsep pentahelix dalam penanggulangan terorisme terorisme oleh BNPT. Konsep ini dikembangkan karena pemerintah, dalam hal ini BNPT tidak bisa sendiri untuk menangani intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Konsep pentahelix adalah kolaborasi secara multipihak yang melibatkan unsur pemerintah, akademisi, badan atau pelaku usaha, masyarakat, komunitas, media hingga pelaku seni.

“Kita pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, harus dibantu semua pihak. Konsep pentahelix semua harus bersatu padu, tidak boleh diserahkan kepada pemerintah saja. Harus ada akademisi, mitra usaha, media dan lain-lain,” jelas Nisan.

Kegiatan ini dihadiri Wakil Rektor III Unpri Said Rizal dan Ketua Walubi Sumatera Utara Brilian Moktar, SE, MM, MH, serta dihadiri kurang lebih 600 mahasiswa dan mahasiswa Unpri. Said Rizal mengatakan kuliah umum ini sangat penting untuk menambah wawasan dan pengetahuan bagi para dosen dan mahasiswa agar bisa membentengi diri dari penyebaran virus radikalisme dan terorisme.

“Kedepapnnya mahasiswa mengetahui cara-cara agar tidak terpapar virus radikalisme dan terorisme,” katanya.