Peserta Regenerasi Duta Damai Jateng harus mengerti mengenai Bahayanya Paham Radikal Terorisme melalui Dunia Maya

Semarang – Hari kedua pelatihan Duta Damai Dunia Maya 2020 regional Jawa Tengah (Jateng) diberikan materi mengenai pengenalan tentang bahayaya ideologi terorisme dan materi mengenai isu propaganda terorisme melalui media soial. Hal ini perlu dipahami para peserta pelatihan Duta Damai mana para peserta terdiri dari kalangan Programmer IT, Blogger/penulis dan Digital Komunikasi Visual/DKV langsung

Materi tersebut diberikan oleh tim Pusat Media Damai Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (PMD BNPT) pada,Rabu (14/10/2020). Dimana ada dua narasumber yang memberikan materi pada sesi tersebut yakni Dr. H. Muhammad Suaib Tahun, Lc, MA, selaku staf ahli PMD pada Kedeputian I bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT. Narasmber lain yakni Budi Hartawam, STH.I selaku anggota Divisi Monitoring dan Analis PMD.

Dr Suaib Tahir selaku pemateri pertama dalam kesempatan tersebut memberikan pengetahuan mengenai Radikalisme Terorisme yang dibungkus agama.. Menurutnya, semua orang sepakat bahwa terorisme ini tidak ada kaitannya dengan Islam.

“Dan siapapun yang beragama Islam jika diberi strigma seperti ini pasti akan tersinggung. Dan memang jika orang yang memahami Islam dengan benar pasti tahu bahwa Islam ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan terorisme,” ujar Dr Suaib

Namun demikian menurutnya, seringkali para pelaku terorisme ini beragama Islam. Sehingga seringkali juga orang mengidentikkan terorisme ini dengan Islam. “Oleh karena itu penting bagi kita untuk memahami kenapa terorisme selama ini diidentikkan dengan suatu agama. Dan jangan sampai kita juga melakukan hal yang sama,” ujarnya

Lebih lanjut Suaib menjelaskan bahwa, sejak runtuhnya khilafah utsmani dan ekspansi barat ke dunia timur, muncul gerakan baru di dunia timur untuk menjadikan Islam sebaga salah satu solusi dalam menyelesaikan berbagai macam masalah.

“Akibat dari fenomena inilah yang pada akhirnya mengakibatkan munculnya berbagai gerakan radikal ekstrem dikalangan umat Islam,” katanya.

Pria yang meraih seluruh gelar sarjananya dari Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir ini mencontoh di Mesir muncul kelompok yang bernama Ikhwanul Muslimin dan kemudian Hizbut Tahrir di Jordania. Yang mana gerakan-gerakan ini pada akhirnya menjadi gerakan radikal di beberapa dunia Islam termasuk di Indonesia.

“Dimana mereka ini pada umumnya menyebarkan pengaruhnya dengan menggunakan media buku, salah satunya yang paling terkenal adalah buku milik Sayd Qutb yang juga telah diterjemahka ke dalam bahasa Indonesia. Buku ini berisi berbagai pemikiran dan pemahaman Sayd Qutb terkait Islam yang sayangnya mengarahkan orang-orang pada pemikiran radikal dan ekstrem,” ujar Kyai Suaib.

Oleh karena itu Kyai Suaib menjelaskan bawha, tidak ada satu agama yang bersifat kekerasan, radikalisme dan terorisme. Apa yang terjadi selama ini sebenarnya bukan agamanya, melainkan orangnya. Tentunya akan salah jika agama mengajarkan kekerasan atau korupsi.

“Sekarang banyak orang-orang yang memahami ajaran secara ekstrim dan tidak kompherensif. Sehingga menimbulkan perilaku yang bertentangan dengan Al Quran,” ujarnya.
.
Untuk itu pria yang selama 25 tahun pernah menjadi staf Kedutaan Besar Republik Indonesia (Kedubes RI) di Sudan ini meminta kepada para peserta regenerasi Duta Damai untuk tidak terpengaruh oleh paham radikal ini dengan cara berpikir kritis.

“Kalau kita mampu berpikir kritis dan mempertanyakan berbagai hal yang menurut kita tidak benar atau menyimpang, tentu kita tidak akan mudah terpengaruh oleh paham radikalsme ini,” ujarnya.

Dirinya meminta para generasi muda untuk memiliki pemikiran yang open minded atau terbuka terhadap banyak hal. Tidak berpikiran sempit atau hanya memahami agama dari satu prespektif saja dengan memperbanyak membaca buku, perbanyak literasi untuk menambah wawasan kita sehingga kita tidak bertindak gegabah.

“Manfaatkan media sosial dan gadget yang ada mencari informai dan pengetahuan yang berguna. Jika kita mendapatkan informasi yang menyimpang, kita cari informasi pembandingnya, apakah benar demikian atau tidak,” ujarnya.

Pria yang juga Direktur Damar Institute yang bergerak dalam bidang Kontra Narasi dan Idiologi dari paham Radikal Terorisme ini juga meminta kepada generasi muda untuk confident dan selektif dalam menyaring informasi yang ada dan berkembang di masyarakat dan tidak menelan mentah-mentah setiap informasi yang ada.

“Kemudian juga harus bersikap inklusif dan toleran, tidak menyendiri atau membedakan terhadap orang lain. Bergaullah dengan sebanyak mungkin orang untuk mengatahui berbagai macam perspektif yang ada. Misalnya bergaul dengan teman-teman dari agama lain atau dari negara lain sehingga kita juga tahu apa yang sebenarnya ada di dalam sana. Jadi tidak hanya menduga-duga atau katanya-katanya saja,” katanya mengakhiri.

Sementara itu Budi Hartawan pada pateri kedua memberikan materi mengenai Ancaman Propaganda Radikal Terorisme di Dunia Maya. Di awal penyampaiannya, Budi menjelaskan mengenai tujuan para peserta pegiat dunia maya ini hadir untuk mengikuti pelatihan mengenai sekaligus untuk mengetahui apa yang terjadi di media sosial.

“Ada beberapa kelompok yang melakukan seolah-olah memperjuagkan agama tapi sebenarnya ada tujuan lain disana. Jika kita tidak berhati-hati, maka kita akan terkecoh disitu. Saya ingin teman-teman disini menyebarkan narasi kedamaian di lingkungannya masing-masing. Menjadi agen perubahan adalah agen yang positif,” ujar Budi.

Dikatakannya, narasi radikal ini banyak disebarkan di sekolah-sekolah mengenai Indonesia yang kurang baik. Bahkan di usia dini juga sudah disebarkan mengenai narasi propaganda radikal terorisme. Hal inilah yang harus menjadi perhatian, dimana kita diharuskan menyebarkan narasi kedamaian.

“Jadi dari sekian banyak narasi ini kita harus benar-benar mencari tahu apakah benar mengenai apa yang dibicarakan di media social ? Karena hal ini dapat menjadi aksi teror atas keyakinana yang dia yakini bahwa hanya dialah yang benar,” ujarnya
.
Menurutnya, dunia maya sekarang menjadi media yang dimanfaatkan oleh kelompok radikalis untuk menyebarkan ajarannya. Hal itu dikarenakan dunia maya menjangkau luas semua kalangan dan biaya yang murah.

“Kelompok radikalis ini memanfaatkan hal tersebut untuk menyebarkan narasi dan mengumpulkan pengikut yang sesuai dengan mereka. Hal yang mereka sebarkan seakan-akan bahwa hal itu adalah perintah ajaran Islam yang harus ditaati dan dilaksanakan,” ujarnya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, tahun 2017, BNPT melakukan sebuah penelitian mengenai tingkat radikalisme di kalangan masyarakat. Dan hasilnya terdapat 23,4% mahasiswa setuju dengan jihad untuk tegaknya khilafah, 18,1 % pegawai swasta menyatakan tidak setuju dengan ideologi Pancasila, 9,1 % pegawai BUMN tidak setuju dengan ideologi Pancasila, 23,3 % siswa SMA setuju dengan jihad untuk tegaknya khilafah dan 19,4% PNS tidak setuju dengan ideologi Pancasila.

Selain itu Asosiasi Penyelenggara Jasa Intermet Indonesia (APJI) juga melakukan penelitian bahwa 143,23 juta jiwa Indonesia menggunakan gadget koneksi internet. Survey tersebut menguatkan bahwa ancaman radikaisme bukan rekayasa terutama di masyarakat umum maupun kalangan terdidik. Maka tidak heran kemudian media sosial dijadikan ladang penyebaran paham radikal terorisme.

“Inilah yang menjadi tugas kita bersama sebagai generasi muda untuk menyebarkan pesan perdamaian agar adik-adik dan keturunan kita dapat hidup dengan perdamaian tanpa adanya kebencian. Kita harus peduli,” katanya

Karena menurutnya, pada kenyataannya banyak anak muda yang terkena paham radikal terorisme dari media maya. Hal ini dikarenakan keterbatasan pemahaman agama mereka sehingga mereka mudah terprovoasi untuk melakukan aksi kekerasan.

“Oleh karena itu kita harus dengan hati-hati dalam memainkan jari kita untuk menyebarkan pesan perdamaian dibandingkan menyebarkan keburukan,” katanya mengakhiri.