Pesantren Terafiliasi Kelompok Teroris, BNPT: Itu Data Intelijen dari Hasil Pemetaan

Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menjelaskan bahwa data 198 pondok pesantren (ponpes) terafiliasi dengan kelompok-kelompok radikal. Misalnya Jamaah Ansharut Khilafah (JAK), Jamaah Islamiyah (JI), dan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), merupakan data intelijen hasil pemetaan.

“Itu adalah data intelijen yang didapat dari hasil mapping (pemetaan), kegiatan intelijen, ataupun tracing (pelacakan) di dunia maya,” jelas Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol Nurwahid dalam tayangan Primetime News di Metro TV, Kamis (27/1/2022).

Nurwakhid menjelaskan, afiliasi ponpes dengan jaringan teroris dapat dimaknai sebagai 3 jenis. Pertama, ponpes memang memiliki ikatan dengan kelompok radikal. Kedua, ponpes terkoneksi dengan jaringan kelompok radikal karena ketidaktahuan. Ketiga, berkamuflase dengan siasat menyembunyikan identitas dan agendanya.

“Melalui pemonitoran rutin, BNPT mendeteksi adanya hubungan ideologis, dukungan logistik, dan sebagainya. Data tersebut diharapkan mendorong masyarakat untuk lebih waspada,” kata Nurwakhid.

Menurutnya, indikasi seseorang berada dalam indeks potensi radikalisme di antaranya menunjukkan sikap anti Pancasila hingga takfiri. Hal ini terlihat dari upaya membangun ketidakpercayaan terhadap pemerintah melalui ujaran kebencian, hoaks, dan tindakan-tindakan lainnya.

Ia mengungkapkan bahwa sejak diberlakukannya Undang-Undang No 5 Tahun 2018 Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Densus 88 Antiteror di bawah koordinasi BNPT berhasil menggagalkan upaya aksi teror dengan menangkap lebih dari 1.350 tersangka terorisme. Setelah ditangkap, ribuan tersangka tersebut diproses hukum.