Perguruan Attaqwa & Alumni Al Azhar Indonesia Sepakat Gencarkan Moderasi Beragama

Jakarta – Perguruan Attaqwa bekerjasama dengan Organisasi Internasional Alumni Al Azhar cabang Indonesia mendorong moderasi beragama agar dakwah dilakukan dengan hikmah, tanpa paksaan hingga memberikan argumentasi yang baik.

Dorongan moderasi dalam beragama itu dibahas dalam seminar internasional bertajuk “Peran Civil Society Dalam Moderasi Beragama” yang merupakan rangkaian kegiatan dari Peresmian Pusat Studi Islam dan Bahasa Arab yang diresmikan oleh Wakil Presiden Maruf Amin pada Rabu (22/6).

Dalam acara seminar ini, yang menjadi pembicara utama, yaitu Dewan Ulama Senior Universitas Al Azhar, Profesor Hasan Sholah Al Sagir; dan pembicara lainnya, yaitu Sekretaris Jenderal OIAA Pusat sekaligus Penasihat Grand Syekh Al Azhar Bidang Pendidikan, Profesor Abdul Dayem Nushair; Menteri Agama periode 2014-2018, Lukman Hakim Saifuddin selaku; Rais Syuriah PBNU, Kiyai Abdul Ghofur Maemun; Ketua STAI Attaqwa Bekasi, Kiyai Abid Marzuki; dan Mudir Ma’had Aly Attaqwa KH. Noer Ali, Kiyai Abdul Jabbar Majid.

Dalam sambutannya, Pimpinan Perguruan Attaqwa, Kiyai Irfan Mas’ud mengatakan, bahwa sudah sangat banyak alumni Attaqwa yang melanjutkan pendidikan di Universitas Al Azhar. Sisi lainnya adalah, adanya kesetaraan ijazah antara ijazah Perguruan Attaqwa dengan Universitas Al Azhar.

“Sehingga lulusan Attaqwa dapat secara langsung mempergunakan ijazah yang dimiliki untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Al Azhar,” ujar Kiyai Irfan dalam keterangannya.

Selanjutnya, Profesor Hasan Sholah mengatakan, bahwa ayat Al-Qur’an dan hadist menerangkan bahwa manhaj dalam Islam adalah manhaj yang moderat.

“Moderasi dalam beragama mencakup seluruh praktik-praktik beragama. Bahwa dakwah dilakukan dengan hikmah, tanpa paksaan, dan memberikan argumentasi yang baik, sehingga dapat mendorong hadirnya dialog, bukan konfrontasi,” kata Profesor Hasan.

Universitas Al Azhar kata Profesor Hasan, sebagai lembaga pendidikan tertua di dunia, mengajarkan dan mengamalkan moderasi beragama berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah.

“Bahwa Islam mengajarkan setiap umatnya untuk bersikap moderat dalam segala hal, termasuk beragama,” terang Profesor Hasan.

Kemudian, Lukman Hakim menerangkan bahwa, Indonesia merupakan negara dengan nilai-nilai agama yang sangat kental, sebab agama sudah tertanam dalam kehidupan masyarakat.

Lukman pun juga menjelaskan bahwa, pemerintah Indonesia melakukan moderasi beragama melalui berbagai regulasi.

“Sebab, baik agama maupun negara saling membutuhkan satu sama lain, sehingga agar nilai-nilai keagamaan dapat membumi, maka negara harus hadir dan menjamin hal tersebut,” kata mantan Menteri Agama ini.