Beranda / Berita / Kegiatan / Pentingnya Pasukan Anti Teror TNI Punya Pemahaman Utuh tentang Bahaya Radikalisme Terorisme serta Momen dan Modus Aksi Terorisme

Pentingnya Pasukan Anti Teror TNI Punya Pemahaman Utuh tentang Bahaya Radikalisme Terorisme serta Momen dan Modus Aksi Terorisme

Jakarta – Ancaman bahaya penyebaran Paham Radikalisme dan Terorisme di Tanah Air dinilai masih sangat tinggi. Penyebaran paham tersebut bisa saja menyentuh aparat pertahanan dan keamanan negara seperti TNI-Polri. Kewaspadaan aparat TNI-Polri dalam mencegah penyebaran paham radikal terorisme dan upaya membentengi diri sendiri dari penyebaran paham tersebut harus terus dibangun.

Untuk itulah Subdit Hubungan Antar Lembaga Aparat Penegak Hukum pada Direktorat Penegakkan Hukum di Kedeputian II bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan kembali menggelar Pertemuan Rutin Antar Aparat Penegak Hukum.

Pertemuan tersebut kembali menghadirkan gabungan pasukan Anti Teror yang selama ini dikenal dengan Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopssusgab) TNI yakni Satuan 81 Kopassus TNI-AD, Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) TNI-AL dan Satuan Bravo 90 Korpaskhas TNI-AU di Jakarta Selatan, Selasa (21/5/2019).

Di pertemuan tersebut BNPT menghadirkan mantan terpidana kasus terorisme, Sofyan Tsauri yang juga merupakan mantan anggota Polri sebagai narasumber utama. Hal ini dimaksudkan agar para peserta yang hadir dapat mengetahui secara untuh mengenai bahaya penyebaran paham radikal terorisme yang dapat masuk kepada siapa pun dari berbagai macam sisi serta momentum dan modus operasi yang dilakukan pelaku terorisme untuk melakukan aksinya.

Baca juga : Tunggu Perpres Pelibatan TNI Disahkan, BNPT kembali Samakan Persepsi Bersama Pasukan Anti Teror TNI

“Urgensi daripada pemaparan terhadap satuan pasukan khusus baik dari Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara ini pertama agar mereka dapat memahami secara utuh terhadap bahaya ancaman terorisme. Bahwa ancaman terorisme itu bukan hanya tugas tanggung jawab kepolisian saja, tetapi juga membutuhkan perhatian dari semua matra baik dari Angkatan Darat, Laut dan Udara,’ ujar Sofyan Tsauri di sela-sela acara tersebut.

Karena menurutnya, beberapa kasus ancaman terorisme itu juga dapat terjadi dari berbagai matra, baik darat, di laut maupun di udara. “Dalam hal ini tentu menjadi tanggung jawab kita bersama. Untuk itu BNPT sebagai leading sector dalam penanganan teroris harus betul menjalin koordinasi yang solid dengan semua pihat termasuk dengan pasukan TNI,” ujar mantan anggota Polres Depok ini.

Sehingga menurutnya, ketika terjadi dilapangan seperti insiden atau apa pun itu nantinya, maka BNPT sudah siap untuk mengkoordinasikan dan tidak perlu lagi melakukan koordinasi yang sulit dan sebagainya. “Karena hal ini sudah terjalin lama dan terbina secara baik, sehingga jika suatu saat terjadi insiden sudah bisa tinggal jalan,” ujar pria yang dalam kasus terorisme terlibat dalam pemasokan senjata di Aceh ini.

Untuk itu dirinya berharap, kedepan pertemuan untuk melakukan sinergitas, koordinasi dan saling bertukar informasi antara BNPT dengan TNI ini harus secara rutin dilaksanakan. Karena dengan melakukan pertemuan dan memberikan treatment-treatment tentang masalah masalah terorisme baik bentuk dan ancamannya akan membuat kewaspadaan aparat pertahanan dan keamanan akan semakin tinggi ,

“Karena memang ini penting dan ancaman ini semakin nyata. Apalagi mengingat situasi politik ekonomi dan sosial di masyarakat yang dinamis dan berkembang luas maka ancaman-ancaman itu tidak bisa kita remehkan. BNPT perlu terus menjalin kerjasama ini dan agar dirutinkan paling tidak setiap triwulan dan sebagainya,” ucapnya.

Untuk itu menurutnya kesolidan antara BNPT dan TNI ini harus terus dipertahankan dalam upaya mencegah penyebaran paham radikalisme tersebut dan penindakan seperti apa yang akan dilakukan jika ancaman tersebut terjadi.

“Maka dari itu untuk mengantisipasinya BNPT harus ikut aktif di dalam mengkoordinasikan semua kekuatan yang ada di dalam mengantisipasi keamanan dan ketertiban bangsa ini,” ujar Sofyan Tsauri mengakhiri

Seperti diketahui pada bulan Maret lalu BNPT melalui Subdit Hubungan Antar Lembaga Aparat Penegak Hukum juga menggelar pertemuan serupa bersama pasukan Anti Teror TNI tersebut. Pada pertemuan pertama itu menghadirkan narasumber Direktur Penegakkan Hukum, Brigjen Pol Eddy Hartono, S.Ik, MH dan Widyaiswara Madya Sesmpimti Polri, Brigjen Pol. Ibnu Suhaendra, S.Ik. Pada pertemuan tersebut membahas mengenai peta jaringan kelompok terorisme baik secara global, regional dan nasional sekaligus membahas mengenai ancaman terorisme menjelang digelarnya Pileg dan Pilpres 2019.

Tentang Noor Irawan

Alumni fakultas Ekonomi jurusan Manajemen dari Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur ini lama meliput kegiatan militer di Indonesia. Saat ini juga ikut tergabung di tim PMD dalam Satgas Pencegahan BNPT

Baca Juga

BNPT: Agama Mengajarkan Kedamaian, Bukan Membenci

Ternate – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) meminta guru agama dari tingkat PAUD hingga SMP …