Pengadilan Afsel Dakwa Pelaku Pembakar Kantor Parleman Sebagai Aksi Terorisme

Johannesburg – Pengadilan Afrika Selatan mendakwa pelaku pembakar kantor parlemen negara tersebut sebagai terorisme, Selasa (11/1/2022). Dakwaan itu menyusul tuduhan yang dilayangkan padanya terkait perampokan dan pembakaran.

Pelaku yang bernama Zandile Christmas Mafe ditangkap di dekat kompleks parlemen setelah kebakaran terjadi pada 2 Januari dan dibawa ke pengadilan tiga hari kemudian.

Dalam sidang pada Selasa, dia mendapat 5 dakwaan termasuk membobol parlemen, pembakaran dan niat untuk mencuri properti, termasuk laptop, barang pecah belah dan dokumen, serta aksi terorisme.

“Terdakwa bersalah atas pelanggaran yang melanggar ketentuan … perlindungan demokrasi konstitusional terhadap teroris dan kegiatan terkait,” ungkap dokumen pengadilan, dikutip dari DW.

Juru bicara kejaksaan, Eric Ntabazalila, juga mengatakan kepada wartawan selama reses pengadilan bahwa mereka telah menambahkan dakwaan keenam di mana terdakwa meledakkan perangkat di dalam parlemen.

  1. Pelaku diduga mengalami skizofrenia paranoid

Kebakaran terjadi di kompleks Cape Town pada waktu subuh tanggal 2 Januari yang kemudian menyebar ke Majelis Nasional yang atapnya runtuh. Pelaku didakwa tindakan terorisme karena ketika ditangkap dia ditemukan dengan alat peledak.

Pengacara Mafe, Dali Mpofu mengatakan, setelah penangkapan, tersangka menjalani evaluasi psikiatri dan didiagnosis mengalami skizofrenia paranoid. Mpofu mengatakan kepada pengadilan bahwa kliennya akan melakukan mogok makan sampai dia diberikan kebebasan.

Sementara itu, para pengunjuk rasa di luar gedung pengadilan juga menuntut pembebasannya karena menurut mereka Mafe hanyalah kambing hitam. Pengunjuk rasa mengacungkan poster bertuliskan “Bebaskan Mafe” dan “Dia tidak bersalah”.

Sejak penangkapannya, perdebatan telah berkecamuk di Afrika Selatan terkait pelaku yang bertanggung jawab atas pembakaran gedung tersebut. Sebab, Mafe digambarkan di media lokal sebagai seorang tunawisma.

  1. Sistem deteksi kebakaran disebut rusak dan tidak berfungsi

Seorang tunawisma menceritakan peristiwa pada malam kebakaran terjadi. Saat itu, dia sedang tidur di jalan dekat kompleks parlemen dan mendengar suara seperti tabrakan mobil dan kemudian menduga itu adalah pembobolan sebelum kebakaran terjadi.

Sementara itu, sebuah laporan awal oleh Kota Cape Town pekan lalu mengatakan, sistem deteksi kebakaran tampaknya sudah rusak di mana penyiram tidak aktif dan terakhir diservis pada 2017. Upaya pemadaman membutuhkan puluhan orang dan berhasil dipadamkan dalam dua hari.

  1. Kebakaran merusak bangunan bersejarah

Dilansir Reuters, kebakaran yang terjadi pada 2 Januari tersebut menyebabkan keruntuhan pada atap yang baru dibangun. Selain itu, kebakaran juga merusak bagian bangunan lain yang dibangun pada tahun 1884 ketika Afrika Selatan masih di bawah kolonial Inggris.

Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam kebakaran tersebut. Akibat kebakaran itu, pihak berwenang memindahkan pidato kenegaraan tahunan yang akan disampaikan bulan depan oleh Presiden Cyril Ramaphosa ke tempat alternatif di Cape Town.