Beranda / Berita / Pemberdayaan Desa Benteng Pemahaman Ekstrem & Radikalisme

Pemberdayaan Desa Benteng Pemahaman Ekstrem & Radikalisme

Jakarta – Mantan gubernur Nusa Tenggara Barat Muhammad Zainul Majdi menilai pemberdayaan desa merupakan benteng dari pemahaman ekstrem dan radikal di masyarakat. Karena itu, dia menilai perlunya pemberdayaan desa seperti yang telah dilakukan oleh dana desa agar fungsi yang telah terbangun tetap lestari.

“Maka pemberdayaan desa menjadi penghalau dari masuknya paham-paham radikalisme di masyarakat,” kata TGB Zainul Majdi saat menjadi pembicara dalam diskusi terkait ‘Desa Millenium Ketiga’, dikutip Antara, Rabu (14/8).

Menurut dia, institusi pemahaman baik kebudayaan dan keagamaan di desa biasa diampu oleh petani kaya atau petani yang bukan buruh dengan kaum pedagang.

Baca juga : Terkait Kepulangan WNI Eks ISIS, PBNU Tawarkan Jalan Tengah

Kaum ini, menjadi penopang dan penyandang dana dari masjid, sekolah, atau kegiatan budaya hingga kegiatan agama yang menanamkan nilai-nilai dan khazanah di masyarakat. “Mereka inilah yang biasanya cukup berpengaruh pada pemahaman keagamaan di masyarakat,” ucap dia.

Namun, ketika ekonomi berkembang, dan ritel-ritel modern turun menjamur ke desa, mereka tersisihkan sehingga tak lagi mengampu peran-peran yang selama ini mereka emban.

“Ketika masuk ekonomi yang baru, konsentrasi uang beralih ke ritel modern, maka pedagang di desa tidak mampu menjalankan fungsinya. Akhirnya semangat keagamaan di sana diisi oleh paham baru yang datang,” ucap dia memberikan gambaran fenomena pada beberapa desa di NTB.

Tentang HP HP

Baca Juga

Pria Toronto yang Mencoba Gabung ISIS Bebas dari Penjara

Ontario – Seorang pria asal Toronto, Kanada, Pamir Hakimzadah yang mencoba bergabung dengan ISIS telah …