Pegawai muda PT Sucofindo harus memahami Bahaya Intoleransi, Radikalisme dan Terorisme

Lembang – Meski sedikit banyak telah mendengar dan mengetahui sekilas tentang permasalahan radikalisme dan terorisme melalui media massa, namun generasi muda harus mengerti dan memahami tentang bahaya penyebaran paham radikalisme yang ada di masyarakat atau lingkungan sekitarnya.

Hal tersebut terlihat saat Kasubdit Kontra Propaganda Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kolonel Pas. Drs. Sujatmiko yang mewakili Direktur Pencegahan BNPT, Brigjen Pol . R. Ahmad Nurwakhid, SE, MM memberikan pembekalan mengenai Bahaya Intoleransi, Radikalsime dan Terorisme berserta Upaya Pencegahannya kepada Management Traine Operasional PT Sucofino yang terdeiri dari para generasi muda.

Pembekalan mengenai Bahaya Intoleransi, Radikalsime dan Terorisme yang merupakan bagian dari kegiatan Pelatihan Character Building ini digelar di Depo Pendidikan (Dodik) Bela Negara, Resimen Induk Kodam (Rindam) III/Siliwangi, Lembang, Jumat (14/1/2022).

Dalam kesempetan tersebut Kasubdit Kontra Propaganda BNPT mengatakan bahwa, pegawan Management Trainee Operasioanl PT Sucofindo yang merupakan generasi muda harus bisa menjadi agen perdamaian di lingkungan tempatnya bekerja. Apalagi PT Sucofindo adalah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bukan tidak mungkin pegawainya bisa juga terpapar terhadap masalah Intoleransi, Radikalsime dan Terorisme.

“Tentunya untuk menjadi agen perdamaian tadi sudah saya pesankan, yang pertama, kita harus bekerja secara pentahelix, dimana harus bekerja dengan membangun kohesi sosial dan multiperan. Karena multi peran dari seluruh stakeholder bangsa untuk menyelesaikan masalah pencegahan,” ujar Kolonel Pas Sujatmiko

Dijelaskan alumni Sepa PK TNI tahun 1995 ini, konsep pentahelix dalam kebijakan penanggulangan terorisme ini artinya, penanggulangan terorisme akan lebih melibatkan kerjasmaa dan kolaborasi multipihak, mulai unsur pemerintah, akademisi, badan atau pelaku usaha, masyarakat, komunitas, media hingga pelaku seni termasuk generasi muda.

Konsep multipihak ini akan menggunakan seluruh potensi nasional dalam membentuk kekuatan nasional melawan ideologi radikalisme dan terorisme guna menjaga generasi saat ini dan generasi yang akan datang.

“Pentahelix ini artinya multipihak, termasuk generasi muda seperti pegawai Sucofindo ini. Karena Ini menandakan tantangan dalam menghadapi terorisme berada di semua lini. Kita kembangan terus penetrasi kita ke semua pihak. Tidak ada yang kebal akan ideologi terorisme. Semua pihak harus melawan ideologi terorisme,” ujar mantan Kadisops Lanud Sam Ratulangi Manado ini

Kemudian yang kedua menurutnya, perlunya mereka menjadi agen perdamaian agar para generasi muda ini bisa membentengi dirinya dan bisa membendung terhadap segala bentuk provokasi yang didalamnya termasuk rekrutmen dari kelompok radikal terorisme.

“Kemudian yang ketiga, mereka juga kita sampaikan untuk beragama atau membentengi diri dengan wawasan keagamaan dengan memilih para ulama-ulama yang moderat. Ini agar mereka tidak terpengaruh oleh ideologi radikal yang disebarkan oleh kelompok-kelompok radiokal tersebut,” ujar mantan Komandan Batalyon Komando (Danyonko) 466/Pasopati, Paskhas TNI-AU ini.

Dirinya juga menjelaskan, materi-materi yang disampaikan kepada para siswa dalam pembekalan tersebut yakni terkait dengan masalah kewaspadaan terhadap intoleransi, radikalisme dan terorisme. Hal ini perlu diberikan agar mereka mempunyai kewaspadaan terhadap tiga hal tersebut.

“Dimana tiga hal tadi yang saya sampaikan yaitu, pertama, mengenai pengertiannya atau hulu permasalahan dari terorisme yang ada di Indonesia itu apa. Yang ternyata didalamnya adalah masalah paham atau masalah ideologi yang di distorsi atau ideologi yang menyimpang atau berlawanan dengan ideologi Pancasila,” kata perwira menengah yang dalam karir militernya dibesarkan di Satuan Bravo 90/Anti Teror, Paskhas TNI-AU ini.

Kemudian yang kedua, dirinya juga menyadarkan kepada para siswa mengenai ancaman-ancaman apa yang terkait dengan paham maupun ideologi tersebut.

“Jadi tadi kita jelaskan itu semuan ancamannya seperti apa termasuk dari hasil-hasil penelitian yang mana hal itu juga merupakan suatu rujukan kewaspadaan atau ancaman terkait dengan perlawanan terhadap ideologi ideologi yang berlaku di Indonesia,” katanya mengakhiri.