Pegawai Jasa Marga diminta Mencegah Paham Radikal Terorisme melalui “AKHLAK”

Jakarta- Selepas tertangkapnya oknum pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terlibat dalam aktifitas terorisme tentu memberi tanda bagaimana virus ideologi radikal terorisme ini rawan untuk memapar siapa saja. Tidak hanya masyarakat umum namun juga ternyata kepada pegawai yang memiliki afiliasi langsung dengan negara dalam hal ini adalah BUMN.

Untuk mencegah masuknya ideologi tersebut ke pegawai BUMN tentu diperlukannya peningkatan kewaspadaan terhadap bahaya virus ideologi radikal terorisme di mana saat ini ideologi radikal terorisme bisa memapar siapa saja lewat berbagai medium, baik secara langsung maupun lewat medium media sosial.

Oleh karena itu, Jasa Marga Group menggelar kegiatan sosialisasi dalam mencegah paham radikal terorisme di lingkungan kerja. Acara yang digelar secara daring pada Senin (27/9/2021) ini mengambil tema “Sosialisasi Pencegahan Radikalisme di Era Industry 4.0 Lingkungan Jasa Marga Group”,

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BUMN), Brigjen. Pol. R. Ahmad Nurwahid, S.E., M.M, yang bertindak sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut menyampaikan bagaimana hulu paham radikal terorisme ini berangkat dari rasa menjiwai aksi terorisme.

Dalam paparannya, disampaikan bahwa bagaimana ideologi radikal terorisme ini bermula dari bagaimana setiap individu memiliki rasa untuk menjiwai, termasu aksi terorisme. Hal ini tentu berbahaya apabila rasa menjiwai tersebut dirasakan oleh masyarakat dan hal tersebut dapa terpengaruh karena berangkat dari benih benih ideology radikal terorisme yang sudah diketahui dan dijiwai sebelumnya.

“Ide yang berangkat daripada situasi tindakan perbuatan terorisme selalu dijiwai oleh paham radikal atau radikalisme. Jadi radikalisme disini merupakan paham atau ideologi yang menjiwai semua aksi terorisme” ucap Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid.

Lebih lanjut dirinya juga menekankan bahwa Indonesia telah berdiri berdasarkan konsensus nasional yang telah disetujui bersama oleh segenap elemen bangsa. Tentunya hal ini adalah tugas daripada seluruh elemen bangsa pula dalam menjaga konsensus nasional tersebut.

“Pola dari simpatisan radikal terorisme ini selalu membenturkan diksi agama dan negara ini kerap sekali ditemui di media social. Dan tentunya kewaspadaan atas hal itu harus dibangun dikarenakan negara dan agama adalah unsur yang saling mendukung,” ucap alumni Akpol tahun 1989 ini.

Menurutnya, adanya benturan antara agama dan negara biasanya didasari oleh rasa kritis terhadap berbagai situasi nasional, namun dirinya menekankan bagaimana kritis yang baik dan tidak menyimpang ke tujuan yang lain yaitu mengganti konsesnus negara.

“Kita semua wajib kritis, tapi kritis yang santun, kritis yang solutif, memberi solusi, kritis yang menggunakan budi pekerti atau adab yang baik. Bukan menggunakan narasi-narasi kebencian maupun fitnah yang ujungnya sikap membenci terhadap negara ataupun pemerintahan yang sah dengan membangun ketidakpercayaan masyarakat terhadap negara atau pemerintahan yang sah dengan ujaran kebencian provokasi propaganda,” kata mantan Kapolres Gianyar ini.

Menurutnya kewaspadaan atas ideologi radikal terorisme ini harus direspon secara cepat oleh segenap unsur BUMN diantaranya dengan core values AKHLAK. Yang mana AKHLAK ini merupakan akronim dari pada Amanah, Kompeten, Harmoni, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif .

“Atas core values tersebut, pegawai BUMN diharapkan mampu menjadi garda terdepan di dalam menangkal dan mencegah paham radikal terorisme di lingkungan kerjanya masing masing,” ucap mantan Kabagbanops Detasemen Khusus (Densus)88/Anti Teror Polri ini
Terlebih menurutnya, dengan memiliki core value AKHLAK, tentunya hal tersebut juga akan sejalan dengan bagaimana pegawai BUMN ini mampu menjadi contoh bagi masyarakat agar santun dalam budi pekerti dan mampraktekkan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika di masyarakat.

“Individu kita-kita ini tidak boleh diam. Kita harus dan wajib untuk menjadi buzzer dan influencer terutama di dunia maya dan di media social,” ucap Wakil Komandan Resimen Taruna (Wadanmentar) Akpol

Untuk itu perwira tinggi yang pernag menjadi Kadensus 88/Anti Teror Polda DI Yogyakarta ini meminta jkepada pegawai Jasa Marga Grup yang memiliki media social untuk selalu menggelorakan persatuan, perdamaian serta menggelorakan akhlakul karimah,

“Itu Amanah, Kompeten, Harmoni, Loyal, yang Adaptif, Kolaboratif ini kan untuk perdamaian, untuk rahmatan lil alamin, persatuan serta untuk mencintai cinta tanah air bangsa dan negara. Dan kita semua wajib melawan segala bentuk konten-konten yang mengandung hate speech, provokatif maupun adu domba,” ujar mantanKapolres Jembrana ini mengakhiri.