Pasca Tewasnya Al-Zawahiri, AS Peringatkan Warganya Terkait Potensi Serangan Balas Dendam

Jakarta – Amerika Serikat (AS) telah mengkonfirmasi serangan drone yang menewaskan pemimpin al Qaeda Ayman Al-Zawahiri di Kabul, Afghanistan, Minggu kemarin. Al-Zawahiri tewas di sebuah rumah persembunyiannya yang disinyalir selama ini dilindungi oleh Taliban.

Pasca serangan itu, Pemerintah Amerika Serikat (AS) melalui Departemen Luar Negeri mengeluarkan peringatan bagi warga AS yang tinggal di luar negeri untuk waspada akan adanya potensi kekerasan anti-Amerika. Peringatan ini dikeluarkan sebagai bentuk kewaspadaan, karena agen mata-mata AS, CIA, baru saja melakukan serangan di Kabul yang menewaskan pimpinan Al Qaeda, Ayman Al Zawahiri (72), Minggu (31/7/2022).

Al-Zawahiri tewas dalam serangan pesawat tak berawak yang dilakukan oleh pasukan AS terhadap rumah persembunyiannya. Itu adalah serangan AS paling signifikan terhadap Al Qaeda sejak pembunuhan Osama bin Laden pada 2011.

Oleh karena itu pemerintah AS meminta setiap warganya untuk berhati-hati, karena aksi balas dendam sangat dimungkinkan terjadi.

Potensi serangan balas dendam teroris Dikutip dari Daily Mail, Rabu (3/8/2022), peringatan dikeluarkan pada Selasa (2/8/2022) malam. Informasi yang ada saat ini menunjukkan bahwa ada kelompok teroris yang tengah merencanakan serangan balasan sebagai balas dendam terhadap AS di berbagai wilayah dunia.

Serangan balik itu bisa berupa penculikan, pembajakan, pemboman, atau pembunuhan. Oleh karena itu, bagi warga AS yang akan bepergian ke luar negeri didesak agar menunda rencana tersebut. Bagi yang memiliki kepentingan mendesak dan harus bepergian ke luar negeri, diminta untuk berkonsultasi dengan penasihat perjalanan.

Sementara bagi warga AS yang sudah ada di luar negeri, diminta untuk memantau berita lokal dan terus menjaga kontak dengan kedutaan atau konsulat terdekat. Tidak disebutkan secara jelas, apakan peningkatan serangan ini akan terjadi di Amerika, atau di negara tertentu, karena semua kemungkinan bisa terjadi.

AS menilai pemimpin Al Qaeda Ayman al-Zawahiri memiliki peran penting pada perencanaan aksi terorisme yang terjadi di AS, 11 September 2001 yang dikenal sebagai peristiwa WTC. Zawahiri merupakan pengganti pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden yang telah terbunuh pada 2011.

Ia dilabeli sebagai Osama bin Laden ke dua oleh AS. Semenjak Bin Laden tewas, Zawahiri selalu berhasil menghindari pasukan AS hingga akhirnya terbunuh di Kabul. Atas kematian Zawahiri, Al Qaeda belum mengakui pembunuhan yang terjadi secara terbuka. Dimungkinkan, hal itu karena menjadi pukulan telah bagi struktur kekuasaan kelompok mereka.

Pemerintah AS, menegaskan bahwa kelompok teror tetap menjadi salah satu ancaman terbesar bagi Amerika dan kepentingan AS di luar negeri. Presiden Joe Biden berulang kali menyebut serangan teroris 11 September ketika ia mengungkapkan serangan pesawat tak berawak CIA menewaskan pemimpin Al Qaeda, sehari setelah kematian Zawahiri, Senin (1/8/2022).

“Sekarang, keadilan telah ditegakkan, dan pemimpin teroris ini tidak ada lagi,” kata Biden.

Selain berperan pada peristiwa 11/9, Zawahiri juga diyakini berada di balik serangan terhadap kedutaan AS di Afrika dan Eropa.

“Dia mengukir jejak pembunuhan dan kekerasan terhadap warga Amerika, anggota layanan Amerika, diplomat Amerika, dan kepentingan Amerika,” kata Biden.