Pahami dan Jiwai Pancasila Sebagai Benteng Lawan Politik Adu Domba Kelompok Radikal Terorisme

Medan – Pancasila sebagai ideologi bangsa, terdiri dari sila-sila yang berisi nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Pancasila juga telah mengikat keberagamaan Indonesia menjadi satu kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) utuh dan tangguh. Karena itu, seluruh anak bangsa harus terus memahami dan menjiwai Pancasila sebagai benteng untuk melawan adu domba anak bangsa, terutama oleh kelompok radikal terorisme.

Hal itu dikatakan Deputi Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Mayjen TNI Nisan Setiadi, SE, pada Seminar Nasional bertema “Merajut Nilai-Nilai Kebangsaan Dalam Kebhinekaan Untuk Menjaga Keutuhan NKRI Melalui Penguatan Karakter Dalam Konteks Kehidupan Kampus” di Hermina Center, Universitas Darma Agung, Medan, Rabu (31//8/2022). Seminar itu juga menghadirkan Wakil Ketua Komisi III DPR RI Junimart Girsang, dan Kepala Kesbangpol Sumatera Utara (Sumut) Ir Ardan Noor MM.

“Pertama saya ucapkan terima kasih kepada Universitas Darma Agung yang telah mengundang BNPT melalui ibu rektor. Terima kasih juga buat bang Junimart Girrsang, selaku wakil rakyat. Saya senang dan bahagia bisa hadir di acara seminar nasional. Saya berharap dengan kegiatan ini nilai-nilai kepribadian bangsa Indonesia yang tertuang dalam Pancasila jadi alat pemersatu sehingga para mahasiswa tidak mudah dipecah belah diadu domba,” ujar Nisan.

Menurutnya, seminar nasional seperti sangat bagus untuk membentengi mahasiswa dan generasi muda pada umumnya dari pengaruh paham transnasional yaitu paham yang bertentangan dengan Pancasila seperti intoleransi, radikalisme dan terorisme. Dengan demikian para mahasiswa/mahasiswa bisa menjadi agen perubahan.

“Minimal bisa menguatkan nilai-nilai cinta tanah air, bela negara, khususnya untuk membangun Indonesia yang maju kuat dan tangguh, luar biasa untuk Indonesia emas 2045,” tuturnya.

Ia juga dengan memiliki imunitas dari ideology transnasional, para mahasiswa bisa menjadi garda terdepan dalam pembangunan di segala bidang sehingga bangsa Indonesia tidak mudah diadu domba, dipecah belah.

Pada kesempatan itu, mantan Komandan Pussenarhanud TNI-AD ini memaparkan fenomena dan strategi pencegahan terorisme. Menurutnya, terorisme tidak ada hubungannya dengan agama.

“Kelompok teroris membungkus aksinya atas nama agama. Mereka bahkan menyandera agama dalam membenarkan aksiny,” tukasnya.

Di Indonesia, lanjut Nisan, pelaku terorisme sebagian besar beragama Islam, tapi di Myanmar pelaku terorisme bukan beragama Islam, begitu juga di India, Selandia Baru, dan lain-lain. Jadi tidak ada kaitannya agama dengan terorisme karena semua agama mengajarkan kedamaian. Kalau agama Islam diajarkan rahmatan lil alamin, ukhuwah islamiyah, begitu juga dengan agama-agama lain yang mengajarkan tentang cinta kasih.

“Jadi tujuan teroris itu ada tiga. Ideologi ingin mengganti ideologi negara kita Pancasila menjadi negara agama, kemudian intoleran, dan anti kemanusiaan yaitu bersifat kekerasan, boleh menyakiti dan boleh membunuh. Intinya terorisme itu adalah kejahatan luar biasa,” tukas Nisan.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi II DPR RI Dr. Junimart Girsang, SH, MBA, MH, MIP, mengapresiasi seminar nasional di Universitas Darma Agung ini. Menurutnya, seminar ini bisa menjadi masukan bagi anak bangsa. Apalagi BNPT sebagai pengawal Pancasila, hadir untuk memberikan wawasan tentang bahaya intoleransi, radikalisme, dan terorisme.  

“Sebagaimana tugasnya, BNPT menurut saya adalah mencegah dan memulihkan orang-orang yang sudah terpapar. Namun demikian BNPT tidak bisa sendiri, sebagai anak bangsa, kita harus mendukung dan mengawal serta ikut serta didalamnya,” kata politisi PDI Perjuangan ini.

Ia mengungkapkan, Pancasila sebenarnya sederhana. Semangat Pancasila adalah gotong royong, sehingga sepanjang gotong royong bisa dilakukan secara positif itu berarti  sudah mengamalkan nilai-nilai Pancasila

Selain itu, ucap Junimart, semangat cinta bangsa dan negara harus terus dikuatkan. Caranya juga sederhana, salah satunya dengan kembali menggaungkan mars-mars kebangsaan di masyarakat. Pasalnya, ia melihat 10 tahun belakangan lagu-lagu patriotisme berkurang sekali.

Faktanya, di pedesaan banyak penduduk tidak hafal dengan lagu kebangsaan. Sebagai anak bangsa ia mengaku miris dengan kondisi itu.

“Oleh karena itu saya sudah menekankan kepada BPIP supaya mereka menghidupkan kembali mars-mars kebangsaan, mengembalikan pelajaran PMP seperti dulu. Ini paling penting, supaya betul-betul terwujud cita-cita kita bersama mewujudkan Indonesia Emas 2045. Kalau merajut yang sudah ada saja tidak terwujud, ini tentu jadi tantangan baru bangsa dan negara,” ungkap Junimart.

Rektor Universitas Damar Agung Dr. Irene Silviani MSP berterima kasih atas kehadiran BNPT, DPRI RI, dan Kesbangpol Sumut. Menurutnya, sebagai pimpinan Universitas Darma Agung, ia ingin membuka cakrawala para mahasiswa untuk menyadari arti dari Pancasila.

“Kita ketahui ada lima sila, selama ini mereka hanya menghafal tidak menghayati satu demi satu. Karena itu sebagai akademisi,, kami mengimbau mereka untuk memahami dan mengerti sila-sila Pancasila, sehingga NKRI ini semakin kuat dan tidakterpecah,” ujar Irene.