Mantan Direktur Pencegahan BNPT Bekali Wawasan Kebangsaan Kepada Maba ITS

Surabaya – Mantan Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irjen (purn) Hamli memberikan pembekalan wawasan kebangsaan kepada mahasiswa baru (Maba) Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Pembekalan itu dalam rangka membentengi Maba dalam paparan radikalisme dan terorisme.

“Terorisme sudah hadir di Indonesia sejak zaman Orde Lama hingga Orde Baru. Pada masa Orde Lama, terdapat kelompok Negara Islam Indonesia (NII) yang selanjutnya bertransformasi menjadi kelompok jihad pada masa Orde Baru,” papar Hamli.

Hamli saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BPET) Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengungkapkan, penangkapan teroris pada masa Orde Baru berbeda dengan era sekarang yang butuh penegakan hukum. Hamli menyebut di masa lalu penangkapan teroris perlu operasi intelijen.

Hamli mengutip hasil penelitian Indonesia Millenial Report 2019 terdapat 19,5 persen milenial menyatakan Indonesia lebih ideal menjadi negara khilafah. Dia menyebut hal ini meresahkan dan berpotensi berujung kepada radikalisme.

Dia menyebut untuk menguatkan nasionalisme perlu langkah pemahaman terhadap pengenalan potensi radikalisme. “Karena biasanya kelompok teroris menganggap nasionalisme itu haram dan bertentangan dengan agama,” kata Hamli dikutip dari laman its.ac.id, Rabu (3/8/2022).

Hamli mengatakan potensi ini dapat dilihat dari tersebarnya narasi-narasi radikalisme yang mengitari masyarakat. Dia menyebut narasi dapat mengarah dan mengajak pada tindakan terorisme bila tidak segera ditanggulangi.

Dia menuturkan narasi dapat berupa intoleransi terkait sentimen keagamaan, narasi umat yang diperlakukan tidak adil, narasi keterancaman, dan sebagainya. Hamli menyebut seorang yang terpapar radikalisme dapat dilihat dari tiga ranah perubahan perilaku mereka.

Yakni memperhatikan hubungan sosial, ideologi, dan tindakan. Adapun perubahan tersebut dapat dibagi menjadi tiga derajat intensitas bahaya untuk menunjukkan terpaparnya seseorang.

Pertama, tahap waspada sebagai derajat bahaya rendah. Pada derajat ini, perilaku sudah mulai menunjukkan tanda-tanda ekstremisme, namun masih dalam proses awal dan berskala kecil sehingga belum terlalu berbahaya. Penanganan dini perlu dilakukan agar tidak berkembang dan meningkat menjadi lebih berbahaya.

Kemudian, siaga sebagai derajat bahaya menengah. Pada derajat ini, perilaku seseorang atau kelompok sudah mulai menunjukkan keaktifan dalam menyuarakan dan menyebarluaskan paham dan kegiatan ekstremisme kekerasan. Penanganan pada derajat ini penting dilakukan agar tidak berkembang dan meningkat menjadi lebih berbahaya lagi.

Terakhir, awas sebagai derajat bahaya tinggi. Pada derajat bahaya tinggi, perilaku seseorang sudah menunjukkan tanda-tanda penggunaan aksi kekerasan. Pada derajat ini, penanganan yang mendalam perlu dilakukan.

“Dalam kasus ideologi, orang yang memiliki derajat ini akan menuntut secara terang-terangan untuk menggantikan sistem demokrasi,” ujar alumnus Teknik Kimia ITS ini.

Hamli menjelaskan untuk memerangi terorisme diperlukan kualitas karakter, literasi dasar, dan kompetensi. Kualitas karakter yaitu dengan mempelajari nilai religius dan nasionalisme.

Melalui pembelajaran agama yang baik, tetapi tidak meninggalkan wawasan kebangsaan dan nasionalisme. Sehingga, bisa menjadi sosok moderat yang memiliki rasa nasionalis dengan mendorong nilai gotong royong, kemandirian, dan integritas.

Ia menilai melalui literasi dasar seperti dalam bidang agama yang dapat dilakukan dengan mengetahui kelompok besar aliran yang ada. Hamli berpesan seseorang mengikuti aliran yang baik dan aman serta jangan mengikuti aliran kelompok baru.

Penjelasan Hamli menarik antusiasme 1.300 mahasiswa baru ITS yang hadir pada hari ketiga PSB. Hamli mengapresiasi inisiatif ITS mengadakan PSB untuk mahasiswa baru. Hal ini dapat mencegah kontestasi berbahaya masuk ke lingkungan kampus.