Kirim Bantuan ke Suriah, ACT Ngeles Untuk Dukung Aktivitas Terorisme

Jakarta – Aksi Cepat Tanggap (ACT) sangat aktif mengirimkan bantuan ke negara-negara konflik di Timur Tengah seperti Suriah, Palestina, dan Yaman. Bahkan beberapa tahun lalu, ditemukan bantuan-bantuan berstiker ACT ke kelompok-kelompok yang sedang konflik di Suriah.

Namun ACT membantah bahwa donasi itu untuk digunakan kegiatan terorisme, tapi bantuan untuk kemanusiaan yaitu korban Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS).

Presiden ACT Ibnu Khajar mengatakan penyaluran dana itu merupakan donasi untuk kemanusiaan. Menurut Ibnu, penyaluran dana kemanusiaan itu tidak bisa tebang pilih. Ia pun mempertanyakan klaim PPATK yang menemukan indikasi transaksi keuangan ACT berkaitan dengan kegiatan terorisme.

“Kemanusiaan itu tidak boleh nanya ke siapa yang kami bantu? Kami berikan bantuan, mereka Syiah atau ISIS, karena mereka korban perang, kami sering bingung dana ke teroris dana yang ke mana,” ujar Ibnu dalam konferensi pers, Senin (4/7).

Menurutnya, ACT sering mengundang beberapa kementerian dan lembaga dalam pelaksanaan sejumlah program filantropinya.

“Kami diundang, kami datang. ACT dianggap radikal, ada isu tersebut karena di tiap program kami undang entitas gubernur, menteri datang. Dan bantuan pangan di depan Mabes TNI, kita kerja sama dengan Pangdam Jaya untuk distribusi bantuan dengan bagus,” imbuhnya.

Sebelumnya, PPATK mengindikasikan transaksi keuangan lembaga ACT yang diduga berkaitan dengan aktivitas terorisme. PPATK telah menyerahkan hasil pemeriksaan transaksi ACT ke beberapa lembaga aparat penegak hukum, seperti Densus 88 Polri dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).