Kalangan Pesantren Harus Jadikan Dunia Maya Sebagai Media Dakwah Baru

Jombang – Dunia maya telah menjadi media dakwah baru yang harus dimanfaatkan oleh kalangan pesantren. Pendekatan ini tentu saja selaras dengan pendekatan Wali Songo yang menjadikan media kultural sebagai media dakwah. Di mana perubahan teknologi hari ini memunculkan kultur baru di tengah masyarakat yang harus dijadikan media dakwah oleh kalangan pesantren.

“Dengan pemikiran itulah, kami melakukan pelatihan pada hari ini dengan melibatkan perwakilan santri dari pondok pesantren di Jawa Timur untuk berkolaborasi dan saling membangun komitmen untuk mengisi ruang-ruang digital dengan dakwah santun yang mencerahkan dan mencerdaskan”, ungkap Kasubdit Kontra Propaganda BNPT Kolonel Pas Drs. Sujatmiko dalam pembukaan kegiatan Pelatihan Santri Melalui Bidang Agama Dan Multimedia di Ponpes Tebuireng, Jombang, Selasa (14/6/2022).

Menurutnya, BNPT terus berkomitmen dan konsisten untuk mengajak seluruh komponen masyarakat baik pemerintah, akademisi, komunitas, dunia usaha dan media untuk menyamakan persepsi menjaga perdamaian NKRI.

“Saat ini kami mempunyai konsen yang besar terhadap partisipasi generasi muda di ruang digital untuk menyemarakkan dunia maya dengan pesan-pesan perdamaian, toleransi dan nasionalisme. Ruang ini harus diisi oleh generasi muda karena tanpa disadari kelompok radikal terorisme juga secara cerdas memanfaatkan kecanggihan teknologi dan informasi dengan menyebarkan konten-konten intoleransi, radikalisme dan kekerasan,” papar Sujatmiko.

Ia mengungkapkan, beberapa tahun terakhir banyak generasi muda belajar agama lewat dunia maya baik melalui website terutama melalui media sosial. Pola belajar baru ini yang bisa meruntuhkan otoritas keilmuan konvensional seperti lembaga pendidikan madrasah dan pesantren, seolah generasi muda saat ini sudah cukup mondok di google dan youtube untuk menimba ilmu keagamaan.

Dalam proses perubahan baru seperti ini, lanjutnya, dunia pesantren dan kalangan umat Islam yang moderat dan intoleran masih bertumpu pada ruang-ruang konvensional, sementara mereka yang rajin menyebarkan paham, aliran dan pandangan yang bertentangan falsafah bangsa telah lebih dahulu merambah ruang digital.

“Atas dasar itulah, BNPT ingin berkolaborasi dan mengajak partisipasi generasi muda dari kalangan pesantren untuk berani ambil bagian dalam menyebarkan pengetahuan islam yang kredibel, yang ramah, yang toleran, dan sesuai dengan karakter masyarakat nusantara untuk berdakwah di ruang digital,” terang Sujatmiko.

Dengan terlaksananya kegiatan ini, pihaknya berharap para santri yang mengikuti pelatihan ini dapat memenuhi dunia maya dengan konten perdamaian dengan pesan-pesan yang rahmatan lil alamin.

“Ke depan kami harapkan peserta yang ikut pelatihan pada kegiatan ini akan berkolaborasi dalam menciptakan konten-konten keislamaan yang mencerdaskan dalam website dan platform media sosial bersama yang telah kami bentuk,” tutupnya. (Jenny HS)