Judulnya ini aja : Kader MATAN harus bisa menyebarkan Nilai-nilai Toleransi, Moderat dan Akhlaqul Karimah di Masyarakat

Kader MATAN harus bisa menyebarkan Nilai-nilai Toleransi, Moderat dan Akhlaqul Karimah di Masyarakat

Bogor – Para anggota Mahasiswa Ahli Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah (MATAN) harus bisa menyebarkan nilai-nilai toleransi, moderat, akhlaqul karimah, dan etika Islam yang rahmatan lil alamin kepada seluruh umat manusia demi mewujudkan perdamaian dan persatuan di negeri ini. Hal tersebut tentunya dapat dilakukan dengan mengedepankan pendekatan moderasi bernegara, moderasi berbangsa di tengah masih adanya pertentangan ideologi yang dihembuskan oleh kelompok-kelompok berpaham radikalisme dan terorisme.

Hal tersebut dikatakan Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhis, SE, MM, saat memberikan pembekalan kepada para calon kader anggota MATAN di acara Suluk MATAN (Sultan) 1.6. Acara yang mengambil tema “Internalisasi Wawasan Kebangsaan Berbasis Spiritual pada Generasi 4.0 MATAN” ini digelar di Al-Rabbani Islamic College, Cikeas, Bogor, Sabtu (11/12/2021) petang.

“Para anggota atau warga MATAN kita harapkan sebagai agen-agen perdamaian di dalam penanggulangan radikal terorisme, terutama dengan mengedepankan pendekatan moderasi bernegara, moderasi berbangsa, islam yang wasathiyah atau wasathiyah yang moderat. Mereka harus menjadi agen-agen persatuan dan perdamaian untuk Pancasila dan NKRI harga mati,” ujar Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid.

Lebih lanjut dikatakannya, hal ini diharus dilakukan karena penanggulangan radikal terorisme yang mengatasnamakan agama akan efektif dan menjadi solusi yang bagus dan optimal ketika dilakukan dengan pendekatan tasawuf atau pendekatan thoriqoh di dalam beragama.

“Karena hanya orang-orang yang bertasawuf dan berthoriqoh maka dia akan mencapai maqom yang Ihsan yaitu yang tercermin di dalam perilaku akhlakul karimah yang merupakan misi utama Nabi Muhammad, SAW,” kata alumni Akpol tahun 1989 ini.

Dirinya meminta kepada para anggota MATAN untuk selalu mewaspadai penyebaran paham radikalisme dan terorisme dan harus bisa mencegah penyebaran paham radikal terorisme tersebut di lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu dirinya menanamkan tiga hal yang harus dilakukan para anggota MATAN untuk mencegahan penyebaran paham tersebut.

Dimana yang pertama para anggota MATAN ini harus peduli, harus respect, harus militan terutama di dunia maya untuk mengajak masyarakat bangsa Indonesia terutama para kaum pemuda untuk mencintai tanah airnya atau sering disebut hubbul Wathon minal iman.

“Anak-anak MATAN ini harus mencintai perdamaian dan persatuan. Lalu harus mensyukuri bangsa Indonesia ini sebagai bangsa yang majemuk, heterogen, memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa, yang bisa jadi bekal untuk kemajuan dan peradaban bangsa Indonesia di masa depan. Maka yakinlah bangsa Indonesia ini akan maju dan berkembang, dan Insya Allah bangsa ini menjadi baldatun toyyibatun warobbun ghofur,” ucap mantan .

Lalu yang kedua menurutnya, para anggota MATAN harus militan di dalam menangkal segala bentuk hoaks, ujaran kebencian, fitnah ataupun provokasi dan adu domba utamanya yang disebarkan melalui dunia maya.

“Yang ketiga tentunya teman-teman MATAN harus mengembangkan beragama secara moderat, beragama secara wasathiyah dengan pendekatan tasawuf-thoriqoh atau myang lebih dikenal dengan moderasi beragama dengan mengedepankan akhlakul karimah,” kata mantan Kabagbanops Detasemen Khusus (Densus)88/Anti Teror Polri ini

Manurutnya hal tersebut perlu dilakukan karena kelompok radikal intoleran atau radikal terorisme itu lebih menonjolkan kepada ritualitas, simbol-simbol ataupun identitas formal keagamaan. Namun mereka ini sangat abai dan sangat lemah terhadap spiritualitas yaitu maqom atau rukun Ihsan yang mana hal tersebut tercermin dalam akhlakul karimah.

“Jadi sering saya sebut bahwa radikal terorisme ini adalah cermin spiritualitas. Nah untuk memenuhi atau menanggulangi spiritualitas itu tentunya tidak ada jalan lain kecuali dengan berthoriqoh atau bertasawuf dengan baik,” ucapnya.

Dimana menurutnya Ihsan atau Tasawuf inilah yang bisa mengeksplor dan menggali aspek spiritualitas di dalam keagamaan. Sehingga ketika spiritualitas di dalam diri manusia itu muncul dan menonjol maka tercermin dalam perilaku akhlakul karimah sebagaimana misi utama daripada Rasulullah, ‘innama bu’istu liutammima makarimal akhlak’.

“Yang mana hal tersebut bisa menggali atau mengeksplor spiritualitas di dalam keagamaan itu hanya dengan tasawuf. Tidak ada jalan lain selain tasawuf,” kata mantan Kapolres Gianyar ini

Dalam kesempatan tersebut perwira tinggi yang pernah menjabat Wakil Komandan Resimen Taruna (Wadanmentar) Akpol ini juga mengingatkan kepada para kader anggota MATAN bahwa radikalisme dan terorisme itu bukanlah monopoli suatu agama, tetapi berpotensi pada setiap individu manusia. Dan yang paling potensial dipapar oleh kelompok radikal adalah mereka para generasi milenial atau generasi antara 20 sampai 39 tahun. Termasuk yang kedua adalah generasi Z yaitu generasi umur 14 sampai 19 tahun.

“Ini dikarenakan mereka ini masih memiliki kontrol emosional yang kecenderungan labil, dimana masih dalam proses pematangan dalam hal wawasan kebangsaan maupun keagamaannya,termasuk juga masih sering mencari tantangan ataupun mencari hal-hal yang baru. Sehingga mereka ini sangat rentan sekali terhadap paham radikal,” ucap mantan Kadensus 88/Anti Teror Polda DIY ini.

Oleh karena itu menurutnya dibutuhkan vaksinasi ideologi dengan pendekatan tasawuf dan thoriqoh seperti kegiatan tersebut agar para anggota MATAN ini terhindar dari paparan penyebaran paham radikalsime dan terorisme.

“Jadi kegiatan ini bagian daripada vaksinasi ideologi atau strategi kesiapsiagaan nasional yang tidak hanya fisik atau kesiapan pasukan dan sebagainya, tetapi lebih daripada itu adalah kesiapsiagaan ideologi. Jadi saya sangat mengapresasi kegaiatan seperti ini,” ujarnya mengakhiri.

Dalam kesempatan tersebut Wakil Ketua MATAN Provinsi DKI Jakarta, Idris Wasahua, S. Ag, MH, menjelaskan bahwa pentingnya para calon kader anggota MATAN ini untuk mendapatkan pebekalan bahaya paham radikal terorisme agar tidak mudah terpapar paham tersebut.

“Sampai saat ini memang masalah radikal terorisme ini masih menjadi problem utama bangsa kita ini. Dan yang paling mendasar itu adalah berkaitan dengan para generasi muda di Indonesia. Dan mereka ini adalah mahasiswa yang baru-baru, sehingga sangat rentan sekali bagi mereka untuk terpapar paham radikal terorisme,” ujar Idris Wasahua.

Oleh karena itu menurutnya, kegiatan Suluh ini adalah kegiatan rutin dan merupakan kegiatan tahunan dan ini salah satu tujuannya yaitu untuk menanamkan menanamkan nilai-nilai sufiftis, tasawuf yang berkaitan dengan paham keagamaan yang moderat, yang saling cinta tanpa pandang bulu baik itu suku, agama, ras ataupun budaya.

“Sehingga mereka dapat menebarkan kasih sayang sesama umat manusia. Dan prinsip-prinsipnya memang mengaplikasikan Islam yang rahmatan lil alamin,” ujarnya mengakhiri.

Acara yang juga dihadiri Ketua MATAN Provinsi DKI Jakarta, Dr. KH. Ali M. Abdillah ini diikuti tidak kurang sebanyak 80 orang calon kader MATAN yang hadir dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Indonesia seperti IPB Bogor, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unisea), Universitas Islam Negeri (UIN) dari berbagai kota dan pulau di Indonesia seperti Jawa, Sumatera dan Kalimantan