Jepang Peringatkan Ancaman Terorisme di ASEAN, Kepala BNPT: Kami Selalu Waspada Dengan Penanggulangan Terorisme dari Hulu ke Hilir

Jakarta – Jepang mengeluarkan peringatan potensi ancaman terorisme di Indonesia dan lima negara ASEAN yaitu Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Myanmar. Untuk itu, Jepang mengimbau warganya agar menjauh dari fasilitas keagamaan yang dianggap mereka berisiko tinggi menjadi target serangan teror di negara-negara tersebut.

Menanggapi hal itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. Drs. Boy Rafli Amr, MH, maklum dengan kekhawatiran Jepang. Namun, ia mengatakan, bahwa pemerintah Indonesia selama ini telah melakukan pencegahan terorisme, penegakan hukum, dan kerja sama intenasional sesuai mandat Undang-Undang No 5 Tahun 2018.

Boy Rafli mengimbau perlu meningkatkan kewaspadaan bersama terhadap seluruh ancaman aksi teror, kapan pun dan dimana pun.

“Perlunya kewaspadaan bersama, karena jaringan terorisme terus berupaya untuk melaksanakan aksinya di ruang publik”, katanya.

Ia menjelaskan bahwa BNPT sejak awal telah melakukan pencegahan yaitu kesiapsiagaan nasional, kontra radikalisasi, dan deradikalisasi.

Kesiapsiagaan nasional artinya menguatkan pemahaman ideologi Pancasila kepada masyarakat rentan dan juga masyarakat secara umum, meningkatkan kemampuan aparatur agar tidak terpapar paham radikal terorisme, melakukan perlindungan terhadap obejek vital, fasilitas umum, termasuk di dalamnya rumah ibadah; mengembangkan kajian terorisme secara komprehensif; juga pemetaan daerah rawan radikal terorisme.

Pencegahan melalui kontra radikalisasi merupakan upaya untuk menghentikan penyebaran paham radikal terorisme. BNPT melaksanakan kontra ideologi, kontra narasi, serta kontra propaganda kepada orang atau kelompok orang yang rentan terpapar paham radikal terorisme secara langsung atau tidak langsung.

Melalui deradikalisasi, BNPT bersama K/L terkait berupaya untuk menghilangkan atau mengurangi, serta membalikkan pemahaman radikal terorisme yang telah terjadi, sehingga tersangka, terdakwa, terpidana, narapidana, mantan narapidana, dan orang atau kelompok orang yang sudah terpapar dapat kembali ke masyarakat.

“Pencegahan ini melibatkan seluruh komponen bangsa. Tidak hanya dilaksanakan BNPT dan K/L terkait, tetapi juga masyarakat, baik akademisi, praktisi, tokoh agama, tokoh masyarakat yang bermitra dengan BNPT,” tuturnya.

Selain itu, lanjut Booy, preventive justice (pencegahan melalui penegakan hukum) telah dilakukan. Sejak bulan Januari 2021 sampai September 2021 sebanyak 320 orang lebih telah ditindak oleh Densus 88. Secara kuantitas, aksi teror di Indonesia berkurang.

Kerja sama dengan entitas internasional juga telah dilakukan BNPT, baik bersama negara sahabat, maupun organisasi kawasan dan internasional. Hal ini dilakukan dalam rangka melindungi Indonesia dari ancaman terorisme global.

“Melalui upaya ini, artinya BNPT melakukan penanggulangan dari hulu ke hilir,” jelas Boy Rafli.