Eks Napiter Dirangkul Untuk Berikan Edukasi Bahaya Radikalisme di Sekolah

Jakarta – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengajak para eks narapidana terorisme (napiter) berikan edukasi bagi para siswa sekolah mengenai bahaya radikalisme. Pelibatan eks napiter sudah mendapat dukungan penuh dari pemerintah provinsi, kabupaten/kota sampai tingkat desa.

“Mereka yang kita tangkap itu merupakan korban ideologi yang disampaikan secara ekstrem. Jadi yang kita perangi perbuatannya bukan orangnya. Sedangkan yang terdampak kita upayakan menyelamatkan anak dan istrinya agar tidak masuk ke jaringan teroris. Anak istri kita anggap sebagai keluarga,” kata Direktur Identifikasi dan Sosialisasi Densus 88 Antiteror, Brigjen Pol Arif Makhfudiharto di kantor Gubernuran, Semarang, Kamis (22/9).

Dia menyebut eks napiter yang akan dirangkul merupakan orang-orang yang menyatakan ikrar kembali ke NKRI, sudah insyaf serta yang memiliki sikap toleran antar sesama.

“Sekolah-sekolah yang kita berdayakan eks napiter yang punya komitmen mencintai dirinya dan toleran. Agar pendiriannya mantap serta kita arahkan dengan beri edukasi ke siswa ketimbang dilakukan deradikalisasi,” ujarnya.

Berdasarkan data yang dimiliki Densus 88 disebutkan sampai awal September 2022, terdapat 212 terpidana teroris yang masih ditahan di Jawa Tengah. Rinciannya, ada 191 terpidana teroris yang menghuni sejumlah lapas di Pulau Nusakambangan Cilacap. Dan sisanya 20 orang mendekam di lapas luar Nusakambangan.

“Jumlah mantan napiter di Jawa Tengah sebanyak 230 orang. Yang terbanyak tinggal di Surakarta ada 47 orang, Sukoharjo ada 43 orang dan di Kota Semarang ada 20 orang,” jelasnya.

Saat seorang teroris ditangkap, maka yang ditinggalkan ada keluarga yakni ada istri, dan anak. Bila yang ditangkap kepala keluarga, maka keluarga yang ditinggalkan butuh menopang kebutuhan.

Peran pemerintah lebih tepat memberikan kepastian kebutuhan keluarga tercukupi. Sebab, momen ini juga digunakan oleh jaringan teroris untuk masuk dan mengambil keluarga yang ditinggalkan.

“Kita coba berikan pemahaman kepada masyarakat mereka ini juga masyarakat, keluarga kita dan berpikir yang kita perangi adalah perbuatannya bukan orangnya. Kita harus selamatkan keluarganya agar terputus dengan jaringan mereka,” ujarnya.