Duta Damai Dunia Maya Harus Militan Jaga Pancasila

Banda Aceh – Kelompok radikal terorisme merupakan gerakan politik kekuasaan dengan mendistorsi dan mempolitisasi agama yang tujuan utamanya adalah mengganti ideology Pancasila dengan mendirikan negara agama menurut versi mereka yang dapat memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa.

Hal tersebut dikatakan Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT RI) Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid dalam paparannya pada acara Pembentukan Duta Damai Dunia Maya Regional Aceh Melalui Asistensi Bidang Penulisan, Desain Komunikasi Visual, Dan Bidang IT Dalam Rangka Pencegahan Terorisme di Provinsi Aceh, Banda Aceh, Rabu (27/7)

“Oleh sebab itu pentingnya generasi muda khususnya Duta Damai memiliki jiwa militan, sebagai mujahid NKRI untuk menjaga Pancasila sebagai pemersatu bangsa yang telah dirumuskan oleh para ulama, para wali, tokoh agama, dan tokoh bangsa yang digali dari nilai luhur agama dan budaya nusantara, hal ini yang bisa mempersatukan bangsa negara dan kita harus menjaganya,” terang Nurwakhid.

Dalam paparannya, Nurwakhid mengatakan bahwa masyarakat Indonesia tidak akan pernah rela jika bangsanya di adu domba yang menyebabkan negara terpecah belah.

“Karenanya, pentingnya bagi generasi muda membangun narasi perdamaian, narasi ukhuwah insaniyah, ukhuwah basyariyah, ukhuwah wathaniyah, persaudaraan sesama bangsa, persaudaraan sesama manusia,” tegasnya.

Nurwakhid meminta agar para Duta Damai membangun hubbul watan minal iman, karena cinta tanah air dan bangsa adalah bagian dari iman.

“Generasi muda harus menggelorakan Pancasila sebagai pemersatu bangsa, sebagai ideology negara yang di mana semua sila-sila yang ada adalah perintah Tuhan di dalam kitab suci agama,” jelasnya.

Untuk itulah, sambung Nurwakhid, Duta Damai harus mengamalkan Pancasila, di mana artinya mengamalkan agama, dan jika melawan Pancasila artinya melawan agama.

“Maka radikal terorisme sejatinya musuh agama dan musuh negara. Musuh agama karena bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama dan memecahbelah agama, memunculkan islamophobia dan berpotensi membuat konflik disuatu bangsa,” tambahnya.

Menurut Nurwakhid, jika provinsi Aceh ingin mendirikan negara Islam, maka provinsi yang di timur juga menginginkan merdeka yang nanti akhirnya berujung pada perpecahan bangsa.

“Itulah yang diinginkan oleh negara adidaya dan negara adikuasa. Mereka menggunakan proxy, era sekarang bukan era kolonialisme, era sekarang adalah proxy war, proxy ideologi, yaitu dengan membangun dan menyebarluaskan ideology ekstream, radikalisme, kapitalisme, sekularisme, hal itu dilakukan untuk memecahbelah bangsa,” tutupnya.