Duta Damai Dunia Maya Harus Berani Lawan Provokasi dan Adu Domba yang Ancam NKRI

Banda Aceh – Radikalisme seperti virus. Selama dalam diri seseorang tidak cukup perangkat pemahaman tentang keIndonesiaan, pluralisme, multikulturalisme maka orang tersebut akan mudah terpapar radikalisme dan terorisme.

Hal tersebut dikatakan Kabid Media Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Aceh Dr. Wiratmadinata, MH dihadapan 60 orang calon Duta Damai Dunia Maya Regional Aceh di Banda Aceh, Rabu (27/7/2022).

“Menjadi Duta Damai harus memiliki pengetahuan dan berani melawan setiap narasi yang memprovokasi atau mengadu domba masyarakat yang akan mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia”, ujarnya.

Menurutnya, sebagai Duta Damai harus paham konteks, yaitu konteks kehidupan secara lokal, nasional, regional dan global, apa yang sedang terjadi di dunia.

“Duta Damai harus kritis dan harus membaca narasi di media sosial, jika kalau narasinya sudah membenturkan rakyat dengan pemerintah atau membenturkan kelompok satu dengan kelompok lain, maka ada yang salah disitu. Oleh karena itu sebagai Duta Damai harus paham konteks”, jelas Wiratmadinata.

Ia menegaskan, seorang Duta Damai harus paham substansi masalah sehingga sebagai Duta Damai bisa membuat kontra narasi.

“Duta Damai harus memahami apa itu radikal, radikalisme, teroris dan terorisme agar memiliki pengetahuan untuk melawan paham-paham yang dapat memecahbelah kesatuan bangsa”, tambahnya.

Untuk itu, Wiratmadinata berpesan, bahwa menjadi seorang Duta Damai harus rajin membaca dan memahami setiap kosakata. Dan ketika Duta Damai mau melakukan kontra narasi membicarakan tentang damai jangan mengkritik.

“Sebagai Duta Damai yang harus dilawan adalah kebencian. Dengan diskusi, dengan dialog, dengan bicara, saling menghormati dan menghargai, setiap permasalahan mendapat solusi yang terbaik”, tambahnya.

Ia mengungkapkan, gelanggang perang radikalisasi dan kampanye kebencian dalam kehidupan sehari-hari ada di media, maka generasi muda khususnya para Duta Damai harus memiliki pemahaman terkait literasi media.

“Literasi media adalah kita menguasai platform media dan setiap elemen-elemen media yaitu media gambar, audio, video dan teks. Ketika membuat kalimat harus memahami teks,” tutupnya. (Jenny HS)