Di Mesir, Wakil Sekjen MUI Tekankan Pentingnya Langkah Soft Approach Dalam Penanggulangan Terorisme

Jakarta – Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ahmad Fahrur Rozi (Gus Fahrur) menekankan peran penting langkah soft approach dalam penanggulangan terorisme. Pernyataan itu dikatakan Gus Fahrur saat menjadi pembicara konferensi internasional yang diselenggarakan Darul Ifta dan pemerintah Mesir dalam rangka diskusi pencegahan ekstremisme dan radikalisme di Kairo, Mesir.

“Langkah ini lebih diutamakan sebelum pendekatan kekuasaan bersenjata/hukum, dan terbukti berhasil menarik banyak mantan anggota kelompok teroris untuk mencabut baiat kepada kelompoknya dan kembali ke pangkuan NKRI,” kata Gus Fahrur dalam keterangan tertulis, Rabu (8/6/2022).

Gus Fahrur juga mengulas mengenai Indonesia sebagai negara yang terdiri dari ribuan pulau dan ratusan suku serta bahasa lokal namun disatukan dalam NKRI. Dia juga menjelaskan mengenai puluhan organisasi kemasyarakatan dan keagamaan yang tergabung dalam wadah MUI.

Ia juga menjelaskan mengenai fase terorisme yang terjadi di Indonesia dari masa lalu hingga saat ini. Dia menyinggung soal gerakan NII, gerakan Jemaah Islamiyah hingga JAD.

Terkait penanggulangan terorisme, Gus Fahrur menjelaskan MUI ikut berperan penting dalam melakukan langkah soft approach. Langkah tersebut berupa dakwah, dialog dan diskusi intensif dengan berbagai kelompok masyarakat.

“MUI berperan aktif dalam membina persatuan umat Islam. MUI juga disebut berkomitmen dalam melawan terorisme dan radikalisme agama, salah satunya dengan keluarnya fatwa MUI tentang anti-terorisme nomor 3 tahun 2004,” ungkapnya.

Ketua PBNU itu menilai polemik di masyarakat muncul akibat kesalahpahaman terhadap amaliyah istisyhadiyah seperti bom bunuh diri di Palestina disamakan dengan bom bunuh diri di Indonesia. Atas dasar itu, kata Gus Fahrur, MUI melakukan diskusi mendalam dan melahirkan fatwa anti-terorisme.

“Fatwa tersebut secara tegas membedakan antara terorisme dengan jihad. Dalam diktum fatwa tersebut, terorisme adalah tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban yang menimbulkan ancaman serius terhadap kedaulatan negara, bahaya terhadap keamanan, perdamaian dunia serta merugikan kesejahteraan masyarakat. Terorisme adalah salah satu bentuk kejahatan yang diorganisasi dengan baik (well organized), bersifat trans-nasional dan digolongkan sebagai kejahatan luar biasa (extra-ordinary crime) yang tidak membeda-bedakan sasaran (indiskrimatif),” beber Gus Fahrur.

Selain itu, kata Gus Fahrur, MUI juga bekerja sama dalam penanggulangan terorisme dan radikalisme dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Salah satunya dengan pembentukan Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BPET).