Deradikalisasi Harus Terpadu, Berkesinambungan, dan Terencana

Malang – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. Dr. Boy Rafli Amar, M.H. dalam setiap arahan dan rapat pimpinan (rapim) selalu mengingatkan bahwa melaksanakan deradikalisasi itu harus terpadu, berkesinambungan, dan terencana. Karena itu, BNPT terus melakukan penguatan sinergi, koordinasi, dan kolaborasi dengan berbagai stake holder agar program deradikalisasi berjalan dan berhasil dengan baik.

Hal itu dikatakan Direktur Deradikalisasi BNPT Prof. Dr. Irfan Idris, M.A. saat menjadi pemateri diskusi pada Rapat Kerja (Raker)  Program Deradikalisasi Dalam Lembaga Pemasyarakatan Lapas Wilayah Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) di Ijen Resort dan Convention, Malang, Selasa (28/6/2022) malam.

“Kegiatan inilah bentuk keterpaduan dalam melaksanakan deradikalisasi. BNPT tidak bisa sendiri, harus wali napi atau pamong yang 24 jam mendampingi napiter. Karena itu kegiatan seperti ini sangat penting untuk meningkatkan sinergi untuk keberhasilan deradikalisasi,” ungkap Irfan.

Ia menambahkan, bahwa kegiatan seperti ini adalah realisasi dari konsep Pentahelix yang tengah dikembangkan BNPT. Juga sesuai dengan definisi deradikalisasi serta UU Nomor 5 Tahun 2018.

“Inilah bentuk aktualisasinya agar nanti kedepan bisa mengukur keberhasilan kita. Bukan keberhasilan itu untuk kita ekspos,” tutur Irfan.

Pada kesempatan itu, Irfan meminta para petugas lapas untuk terus meningkatkan pemahaman tentang terorisme. Menurutnya, masalah isme atau paham inilah yang menjadi awal seseorang terpapar paham teror yaitu terorisme.

Diskusi itu juga menghadirkan pembicara Dr. Moch Syarif Hidayatullah, Wakil Dekan Fakultas Dirasat Islaminya UIN Syarif Hidayatullah. Ia membawakan materi  “Narasi Alternatif Sebagai Strategi Menangkal Radikalisme dan Pengenalan Istilah-Istilah di Kalangan Pelaku Tindak Pidana Terorisme”.