Dai Wajib Pahami Urgensi Dakwah Digital untuk Lawan Penyebaran Ektremisme dan Konservatisme

Jakarta – Para dai wajib memahami urgensi dakwah digital di tengah kemajuan teknologi informasi. Itu penting untuk melawan penyebaran ekstremisme dan konservatisme yang mengatasnamakan agama, terutama di dunia maya.

Untuk membentuk dai agar paham dunia digital, Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menggelar Multaqo Du’at Nasional yang diikuti para dai dari semua MUI provinsi seluruh Indonesia. Kegiatan itu untuk memperkuat kualitas dakwah para dai seluruh Indonesia, terutama di era digital ini, mengangkat tema ‘Peningkatan Kualitas Dakwah untuk Perbaikan Bangsa di Era Digital’.

“Kegiatannya diawali dengan standarisasi angkatan 10, mulai (22/1) kemarin, hari ini, Ahad (23/1) kita lakukan wisuda akbar, ada 600 lebih wisudawan baru, jika ditambah wisudawan tahun lalu maka ada lebih dari 800 dai yang telah berkomitmen menjadi dai berstandar MUI,” jelas Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Bidang Dakwah dan Ukhuwah KH Cholil Nafis dikutip dari laman Republika.co.id, Minggu (23/1/2022).

Cholil Nafis mengatakan, saat ini dakwah sudah sangat erat kaitannya dengan media sosial dan digitalisasi maka dari itu, sangat penting bagi dai untuk memahami urgensi dakwah digital untuk menghalau penyebaran ektremisme dan konservatisme di media sosial.

“Menag juga dijadwalkan hadir, dan akan memberikan pembekalan tentang tiga hal yang harus dipegang teguh oleh para dai dalam berdakwah, yaitu islam wasatiyah, wawasan kebangsaan NKRI, dan pedoman dakwah yang rahmatan lil alamin,” ujar Kiai Cholil.

Multaqa, kata dia, juga akan membahas tentang kurikulum majelis taklim, pedoman dakwah digital, pedoman dakwah Islam wasatiyah dan penerapannya di era digital. Pembahasan mengenai dakwah digital akan menjadi sorotan, ujarnya.

“Karena saat ini dai bukan hanya bukan penderamah yang diundang dalam acara-acara keagamaan, tapi sudah bisa berkiprah di berbagai platform digital yang dimilikinya tanpa harus menunggu diundang,” kata dia.

“Harapan saya, para dai ini dapat menjadi pelopor kemajuan penyebaran Islam, karena baik buruknya citra Islam tergantung pada wajah Islam yang ditampilkan para dai ini, karena itu kami menganggap bahwa ujung tombak penyebaran agama yang rahmatan lil alamin adalah para dai,” pungkasnya.