Cegah Intoleransi, Radikalisme dan Terorisme di Kabupaten Bandung, BNPT lakukan Silaturahmi dan Dialog bersama Forkopimda dan Tokoh Masyarakat

Soreang – Untuk membangun daya imunitas dan kekebalan warga bangsa dalam menghadapi berbagai macam virus seperti virus intoleransi, radikalisme dan terorisme yang menjadi ancaman bagi bangsa Indonesia, pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme terus memberikan pemahaman kepada seluruh elemen masyarakat mengenai bahayanya virus tersebut.

Hal tersebut terlihat saat BNPT menggelar Silaturahmi dan Dialog Kebangsaan BNPT RI bersama Forkopimda, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama dalam Rangka Pencegahan Paham Radikal Terorisme di Kabupaten Bandung. Acara tersebut digelar di Rumah Dinas Bupati Bandung di Soreang, Kamis (13/1/2022) siang.

Deputi I bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT, Mayjen TNI Nisan Setiadi, SE, di acara tersebut mengatakan bahwa silaturahmi ini merupakan sinergi bersama Pemerintah Kabupaten/Kota merupakan misi penting BNPT dalam melakukan pencegahan radikalisme dan terorisme hingga ke daerah pelosok. Hal ini juga sebagai upaya untuk membangun sinergi dan koordinasi dengan berbagai pihak dalam mewujudkan Indonesia yang harmoni dalam Kebhinekaan,

“Silaturahmi dan dialog kebangsaan ini merupakan salah satu cara BNPT untuk membangun sinergi, koordinasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak, terutama pemerintah daerah dalam memperkuat wawasan kebangsaan dan ketahanan nasional kita demi terwujudnya Indonesia yang harmoni dalam Kebhinekaan,” kata Mayjen TNI Nisan Setiadi.

Menurutnya, program silaturahmi dan dialog yang dilakukan BNPT ini merupakan program BNPT yang sudah dilaksanakan di wilayah Jawa Barat di tahun 2022 ini. Dimana sebelumnya sudah dilakukan di Kabupaten Garut dan juga di lingkungan Forkopimda Jawa Barat. Kedepan silaturahmi ini akan kembali dilaksanakan di Jawa Timur, Sulawesi Tengah kemudian juga ke NTB, atau Bima.

“Kita ingin bersama-sama dengan komponen lainnya atau multipihak, Yaitu kolaborasi dan kohesi, Perntahelix, antara pemerintah, masyarakat, pengusaha, akademisi, media dan juga didalammnya ada seniman dan budayawan. Intinya bagaimana mencegah menanggulangi terkait dengan intoleransi radikalisme dan terorisme di wilayah,” kata alumni Akmil tahun 1988 ini.

Lebih lanjut Deputi I mengatakan, alasan lain dipilihnya Kabupaten Bandung sebagai lokasi silaturahmi dan dialog dikarenakan BNPT ingin bersama-sama Pemerintah Kabupaten Bandung untuk menjajaki kemungkinan kegiatan sinergitas. Yaitu kerjasama kolaborasi antara BNPT dengan 48 Kementrian/Lembaga (K/L), termasuk dengan Pemkab Bandung dengan program yang disebut sebagai Kawasan Terpadu Nusantara (KTN).

“Yang mana di KTN itu didalamnya bagaimana memberdayakan mitra deradikalisasi (mantan napi terorisme) dan juga penyintas atau korban tindak pidana terorisme untuk kita berdayakan. Yaitu kita memberikan suatu solusi atau mungkin suatu pemecahan permasalahan untuk para mitra deradikalisasi atau para napi teroris itu kita satukan dalam satu wadah seperti koperasi,” ucap mantan Komandan Pusat Kesenjataan Artileri Pertahanan Udara (Danpussenarhanud) Kodiklat TNI-AD ini.

KTN rencananya akan dikembangkan dengan mencakup sejumlah aspek, yakni deradikalisasi, ekonomi dan pariwisata. “Kita harus berdayakan eks napi terorisme. Selain itu agar mereka tidak kembali tepapar paham radikalisme dan terorisme,” ucap mantan Kabinda Gorontalo ini.

Sehingga nantinya kedepan di wilayah Kabupaten Bandung yang bisa dijadikan untuk KTN yang bisa digunakan untuk, pertanian, peternakan dan perikanan. Yang mana nantinya di KTN tersebut diharapkan bisa memiliki tiga unsur, yang pertama untuk Pendidikan, kedua untuk kesejahteraan dan yang ketiga juga untuk tourism atau pariwisata

“Mudah-mudahan ke depan kita akan bekerjasama mencari wilayah atau mungkin tempat-tempat yang bisa dijadikan untuk tempat KTN tadi,” katanya.

Terkait dengan potensi radikal terorisme di Indonesia sendiri, Mayjen Nisan Setiadi menjelaskan, berdasarkan survei indek potensi radikalisme tahun 2020 ada penurunan sekitar 52,2 persen dari tahun sebelumnya. Akan tetapi di lapangan tetap harus melaksanakn pengawasan terhadap Ideologi Radikalisme Terorisme.

Sehingga, kata mantan Kabinda Sulawesi Selatan ini, dengan adanya kegiatan dan dialog terkait dengan wawasan kebangsaan ini salah satu upaya pencegahan paham terorisme, melalui Badan Kesbangpol dan Forkopimda Kab. Bandung. Karena dengan melalui Forum ini bisa melaksanakan Sosialisasi bersama beberapa jajaran, yakni ormas, OKP, tokoh agama, dan Tomas untuk menangkal Paham Radikalisme Terorisme.

“Karakter pendidikan Pancasila saat ini hampir hilang, oleh karena itu upaya kedepan agar menghidupkan kembali karakter Pancasila serta menghafal Al Quran, di setiap sekolah sebagai dasar memperkuat Ideologi untuk menangkal Paham Radikalisme. Karena saat ini kelompok terorisme gencar melaksanakan Propaganda melalui media sosial, Sehingga kami berharap semua dapat mencegah, dengan peran masing-masing,” tambahnya.

Sementara terkait potensi radikal terorisme di kabupaten Bandung sendiri dibandingkan dengan wilayah lain menurutnya masih termasuk level yang biasa. “Kalau Wilayah lain memang ada para napi teroris. Tapi disini untuk wilayah Bandung dianggap ya tidak begitu signifikan atau menonjol dibanding Wilayah lain,” kata mantan Komandan Korem 084/Bhaskara Jaya ini mengakhiri.

Dalam acara silaturahmi tersebut selain Deputi I, pihak BNPT yang turut hadir yakni Sekertaris Utama (Sestama) Mayjen TNI Dedi Sambowo, Direktur Pencegahan Brigjen Pol R. Ahmad Nurwakhid, SE, MM, Direktur Deradikalisasi, Prof. Dr. Irfan Idris, MA, Direktur Perangkat Hukum Internasional (PHI), Laksma TNI Joko Sulistyanto, SH, MH, dan Kasubdit Kontra Propaganda Kolonel Pas. Drs. Sujatmiko.

Sedangkan dari unsur Forkopimda Kabupaten Bandung yang hadir yakni Bupati Bandung, Dadang Supriatna, Wakil Bupati Bandung Sahrul Gunawan, Kapolres Bandung Kombes Pol Kusworo Wibowo, Dandim 0624/Kab Bandung Letkol Arh Dharma Noviang Jaya, Ketua MUI, unsur pemuda serta tokoh masyarakat dan agama lainnya di Kabupaten Bandung.