Calon Santri dan Dai Akademi Al-Qur’an FKAM harus bisa jadi Agen Perdamaian bagi Bangsa Indonesia

Klaten – Calon Da’i dan calon imam masjid lulusan dari Akademi Al-Qur’an Forum Komunikasi Aktivis Masjid (FKAM) Klaten diharapkan bisa menjadi agen-agen atau duta damai untuk bangsa Indonesia dengan mendakwahkan Islam secara moderat, serta bisa melawan ajaran-ajaran radikal terorisme yang mengatasnamakan Islam.

Hal tersebut dikatakan Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid, SE, MM, saat memberikan pembekalan pada acara kuliah umum kepada 50 santri dari Akademi Al-Qur’an FKAM Pusat Pendidikan Da’i dan Imam Masjid di Klaten, Selasa (21/12/2021).

“Saya meminta kepada para santri-santri disini yang merupakan calin dai dan calon imam masjid untuk bisa bisa menjadi agen agen beragama yang moderat, agen perdamaian, agen persatuan serta selalu mencintai bangsa dan negara ini. Ini agar bangsa yang pluran dan majemuk ini juga terhindar dari pengaruh penyebaran paham radikalisme dan terorisme,” ujar Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid.

Dikatakan alumni Akpol tahun 1989 ini, bangsa Indonesia ini merupakan negara majemuk yang memiliki beragam suku, agama, ras, dan budaya. Dan tentunya keberagaman tersebut merupakan kekuatan yang dimiliki Indonesia.

Tetapi dalam implementasinya, dinamika ekspresi keberagamaan di era demokrasi terkadang berpotensi memunculkan ketegangan dan konflik antar masyarakat, antar umat beragama atau bahkan internal umat beragama. Oleh karena itu, diperlukan moderasi salah satunya moderasi beragama untuk menjaga keharmonisan bangsa.

“Moderasi beragama sesungguhnya merupakan kunci terciptanya toleransi dan kerukunan, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global. Moderasi merupakan kebajikan yang mendorong terciptanya harmoni sosial dan keseimbangan dalam kehidupan secara personal, keluarga dan masyarakat,” ucap mantan Kabagbanops Densus 88/Anti Teror Polri ini.

Namun permasalahannya menurutnya, di dalam kehidupan bangsa dan bernegara itu sering kali terjadi krisis spiritualitas. Dimana krisis moderasi itu artinya spiritualitas. Padahal seharusnya orang yang bisa moderat itu kalau memahami agama secara Kaffah, baik itu dari sisi imannya, fiqihnya dan ihsannya atau akhlak.

“Ketika beragama secara kaffah atau menyeluruh, Iman Islam dan Ihsan maka akan memunculkan sosok manusia muslim atau umat yang wasattiyah atau moderat. Sehingga mampu mewujudkan visi Islam yang rahmatan lil alamin dan misi Islam yang akhlakul karimah, disinilah pentingnya membangun moderasi beragama untuk mewujudkan moderasi berbangsa dan bernegara. Karena hanya dengan hal itulah akan mewujudkan keamanan, kedamaian dan kemajuan bangsa Indonesia,’ tutur mantan Kapolres Gianyar.

Karena radikalisme dan terorisme itu menurutnya adalah wujud atau cermin dari krisis spiritualitas dalam beragama, di mana hal itu lebih menonjolkan kepada formalitas, identitas formal keagamaan, ritualitas keagamaan, tetapi lemah di bidang spiritualitas.

“Selain itu juga lemah juga dibidang maqom Ihsan, lemah di bidang akhlakul Karimah dan budi pekerti luhur yang merupakan misi utama para nabi utusan Rasulullah Muhammad SAW,” kata mantan Wakil Komandan Resimen Taruna (Wadanmentar) Akpol ini.

Dalam kesempatan tersebut alumni Akpol tahun 1989 ini juga mengingatkan kepada para santri dari Akademi Al-Qur’an FKAM bahwa radikalisme dan terorisme itu bukanlah monopoli suatu agama, tetapi berpotensi pada setiap individu manusia. Dan yang paling potensial dipapar oleh kelompok radikal adalah mereka para generasi milenial atau generasi antara 20 sampai 39 tahun. Termasuk yang kedua adalah generasi Z yaitu generasi umur 14 sampai 19 tahun.

“Ini dikarenakan mereka ini masih memiliki kontrol emosional yang kecenderungan labil, dimana masih dalam proses pematangan dalam hal wawasan kebangsaan maupun keagamaannya,termasuk juga masih sering mencari tantangan ataupun mencari hal-hal yang baru. Sehingga mereka ini sangat rentan sekali terhadap paham radikal,” ucap mantan Kadensus 88/Anti Teror Polda DIY ini.

Oleh karena itu menurutnya dibutuhkan vaksinasi ideologi dengan pendekatan tasawuf dan thoriqoh seperti kegiatan tersebut agar para santri dari Akademi Al-Qur’an FKAM ini terhindar dari paparan penyebaran paham radikalsime dan terorisme.

“Jadi kegiatan ini bagian daripada vaksinasi ideologi atau strategi kesiapsiagaan nasional yang tidak hanya fisik atau kesiapan pasukan dan sebagainya, tetapi lebih daripada itu adalah kesiapsiagaan ideologi. Jadi saya sangat mengapresasi kegaiatan seperti ini,” ujarnya mengakhiri.

Sementara itu Direktur Akademi Al-Qur’an FKAM Klaten Ustadz Nur Fathoni, Lc. Dalam kesempatan tersebut mengatakan bahwa dirinya sangat senang atas kedatangan Direktur Pencegahan Brigjen Pol. Ahmad Nurwakhid untuk memberikan pembekalan kepada para santrinya.

“Kami sangat bangga bisa mendapatkan ilmu dari Direktur Pencegahan BNPT, kami berharap bahwa ilmu yang diberikan ini bisa bermanfaat untuk segenap civitas akademika di Akademi Al-Qur’an ini,” tutupnya.

Sebelum memberikan pembekalan kepada calon Da’i dan calon imam masjid lulusan di Akademi Al-Qur’an Forum Komunikasi Aktivis Masjid (FKAM) Klaten, Direktur Pencegahan mendampingi Deputi I bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT, Mayjen TNI Nisan Setiadi, S.E., dan juga memberikan pembekalan pada acara Kegiatan Silaturahmi Kebangsaan Membangun Harmoni Indonesia bersama Forum Komunikasi Aktivis Masjid Indonesia di Surakarta.