Beranda / Berita / Dari Bui, Peneror Masjid Selandia Baru Serukan Aksi Supremasi Kulit Putih

Dari Bui, Peneror Masjid Selandia Baru Serukan Aksi Supremasi Kulit Putih

Auckland – Pelaku teror penyerangan masjid di Christchurch, Selandia Baru yang menewaskan 51 orang, Brenton Tarrant, dilaporkan telah mengirim surat untuk berkabar dengan kelompok supremasi kulit putih dari balik bui, Padahal, kini Tarrant sedang ditahan di sel dengan keamanan maksimum di penjara Paremoremo Auckland. Pemerintah Selandia Baru pun telah mengonfirmasi kebenaran informasi tersebut.

Brenton mengirimkan sebuah surat kepada kelompoknya pada awal Juli lalu. Para ahli menyatakan bahwa surat tersebut dapat dimaknai sebagai “seruan aksi” kepada penganut supremasi kulit putih di seluruh dunia. Surat itu diunggah di papan pesan 4 channel, sebuah situs berbagi gambar secara anonim yang dikenal sebagai tempat para penganut supremasi kulit putih untuk menyatakan pandangannya.

Para tahanan di Selandia Baru memang diperbolehkan mengirim dan menerima surat. Pihak berwenang hanya diperbolehkan mencegat surat tahanan dalam beberapa keadaan tertentu, tetapi para pejabat mengatakan bahwa surat Tarrant seharusnya tidak pernah diizinkan keluar.

Baca juga : Meksiko Tekan AS untuk Sebut Penembakan El Paso Aksi Terorisme

“Kami tidak pernah mengelola seorang tahanan seperti ini sebelumnya – dan saya telah mengajukan pertanyaan seputar apakah undang-undang kami sekarang sesuai dan meminta masukan tentang perubahan apa yang sekarang mungkin perlu kita buat,” kata Menteri Pemasyarakatan, Kelvin Davis dalam sebuah pernyataan dan dikutip The Guardian, Kamis (15/8).

“Saya tidak percaya dewan pemasyarakatan membiarkan surat ini dikirim. Kami meminta jaminan kepada mereka bahwa akan ada proses yang ditingkatkan mulai sekarang,” imbuhnya.

Sementara itu Faisal Sayed, sekretaris jenderal masjid Linwood, Masjid yang juga menjadi target penyerangan dan menewaskan 7 orang, mengatakan bahwa masyarakat merasa ngeri terkait adanya surat tersebut.

“Ini benar-benar menakutkan, dan terus terang kami terkejut. Ini sulit dipercaya. Tidakkah dia harus mendapat perlaukan khusus di penjara?” kata Sayed.

“Lagi-lagi ini menunjukkan hukum di Selandia Baru masih tertinggal. Saya benar-benar khawatir tentang dampak dari ini. Dia bisa saja membentuk kelompok lain, atau menginspirasi serangan lainnya. Orang-orang merasa sangat khawatir, dan benar-benar takut,” tambahnya.

Juru bicara partai oposisi bidang pemasyarakatan, David Bennett, mengatakan bahwa menteri pemasyarakatan berutang permintaan maaf secara langsung kepada korban penembakan masjid. Menurutnya, hak-hak para korban dalam kasus ini harus diletakkan diatas segalanya.

“Pria ini dituduh melakukan salah satu kejahatan paling kejam dalam sejarah Selandia Baru. Masyarakat akan merasa ngeri bahwa departemen koreksi memungkinkannya untuk mengirim surat yang mencakup ajakan untuk beraksi dan telah diposting secara online,” ujarnya.

Di sisi lain, seorang juru bicara di departemen pemasyarakatan mengatakan bahwa mereka telah mengubah kebijakan untuk penanganan surat Tarrant. “Saat ditinjau, kami mengakui bahwa surat ini seharusnya ditahan. Kami telah membuat perubahan pada manajemen surat tahanan ini untuk memastikan bahwa proses kami yang kuat sama efektifnya dengan yang kami inginkan,” kata juru bicara itu.

Brenton Tarrant, warga negara Australia yang mendeklarasikan supremasi kulit putih tersebut kini sedang menunggu persidangan atas 51 pembunuhan di dua masjid kota Christchurch pada 15 Maret. Dia juga menghadapi dakwaan terorisme.

Pengacara Tarrant meminta persidangan dipindahkan dari kota Christchurch, tempat serangan terjadi. Permintaan ini pun dikabulkan oleh hakim sehingga persidangan dipindahkan ke kota Auckland pada 3 Oktober mendatang.

Tentang BEM

Baca Juga

Pria Toronto yang Mencoba Gabung ISIS Bebas dari Penjara

Ontario – Seorang pria asal Toronto, Kanada, Pamir Hakimzadah yang mencoba bergabung dengan ISIS telah …