BNPT Minta Ulama Suarakan Kebenaran Sampaikan Ajaran Islam Rahmatan Lil Alamin

Malang – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) meminta para ulama untuk menyuarakan ajaran Islam rahmatan lil alamin. Ini sangat penting untuk membongkar kebohongan kelompok radikalisme agama yang banyak membelokkan tafsir ayat suci Alquran dan membuang banyak hadis asli yang bertujuan untuk melakukan bid’ah dan mengkafirkan orang lain.

“Radikalisme agama dipicu ideologi asing yang menggunakan dalil agama untuk ‘meracuni’ umat. Mereka memecah belah umat dengan melakukan pembohongan dengan dalil-dalil yang sengaja dibelokkan, bahkan dihilangkan dari kitab aslinya,” ungkap Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid, SE MM, saat bersilaturahmi dengan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur (Jatim) KH Marzuki Mustamar di Pondok Pesantren Sabilul Rosyad, Malang, Selasa (5/7/2022).

Karena itulah, lanjut Nurwakhid, BNPT sangat butuh peran ulama untuk menanggulangi radikalisme dan terorisme yang mengatasnamakan agama. Ulama sangat dibutuhkan untuk meluruskan sejarah dengan mengungkap fakta sebenarnya tentang ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

“Ulama bisa menjadi pintu masuk dan sekaligus pintu keluar seseorang dari radikalisme agama,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, ada beberapa hal yang menjadi pemicu radikalisme agama. Antara lain, politisasi agama atau memanipulasi agama, pemahaman agama yang menyimpang, intoleransi, kemiskinan, kebodohan, kesenjangan, ketidakadilan, sistem politik dan hukum yang lemah, kondisi mental psikologi yang berisi kebencian dan dendam.

Ia mengungkapkan, orang yang tidak paham itu sering mengatakan bahwa tidak mungkin seseorang akan mengarah terorisme karena agama yangdiajarkan Alquran dan Sunnah. Maka harus dikatakan bahwa aksi terorisme bukan tujuan, tetapi salah satu strategi yang ending-nya adalah politik kekuasaan guna mengganti ideologi negara dans istem negara. Sehingga ada polanya dakwah, ada yang sururi melalui jalur politik dan ada kombatan dengan aksi terorisme.

“Ideologi radikalisme dan terorisme itu adalah sebuah gerakan politik yang memanipulasi agama untuk mengganti ideologi negara dengan ideologi lain yang bertentangan dengan Pancasila,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Nurwakhid, terorisme adalah paham yang dibangun di atas manipulasi dan distorsi agama. Ia menegaskan tidak ada kaitannya aksi radikal terorisme dengan agama apa pun, namun terkait dengan pemahaman agama menyimpang dan didominasi oleh mayoritas agama di wilayah tersebut

Pada kesempatan itu, Nurwakhid menjelaskan tiga strategi kelompok radikal untuk menghancurkan NKRI dan mengadu domba diantara umat Islam. Pertama menghilangkan, menyesatkan, dan mengaburkan sejarah. Kedua menghancurkan budaya dan kearifan lokal bangsa. Dan ketiga mengadu domba diantara anak bangsa dengan membangun paradigm intoleransi dan isu SARA.

“Inilah yang dipakai penjajah kolonial dulu,” tandas mantan Kabag Ops Densus 88 ini.