Beranda / Berita / Kegiatan / BNPT – FKPT Ajak Aparat Desa di Sulteng Tak Mudah Percaya Informasi dari Medsos

BNPT – FKPT Ajak Aparat Desa di Sulteng Tak Mudah Percaya Informasi dari Medsos

Palu – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi Tengah, Kamis (16/5/2019), menggelar kegiatan Rembuk Aparatur Kelurahan dan Desa tentang Lierasi Informasi. Kegiatan ini mengajak peserta untuk mewaspadai beredarnya informasi secara bebas di era kemajuan teknologi.

Ketua Bidang Media Massa, Hukum, dan Hubungan Masyarakat FKPT Sulawesi Tengah, Murthalib, menyampaikan ucapan terimakasihnya atas penyelenggaranaan kegiatan tersebut di Palu. Dia mengakui, hingga saat ini masih terdapat perbedaan mencolok kemampuan literasio antara masyarakat di kawasan perkotaan dan pelosok di Indonesia.

“Sehingga kegiatan semacam ini menjadi sangat penting. Kami sadar, kemampuan masyarakat dalam berliterasi, yaitu mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara benar masih sangat lemah,” ungkap Murthalib.

Pria yang menjadi awak redaksi Harian Radar Sulteng tersebut menambahkan, rendahnya kemampuan literasi masyarakat, khususnya di era kemajuan teknologi dengan kebebasan informasinya, sangat berbahaya apabila tidak dilakukan upaya-upaya pencegahan sejak dini.

“Di tengah maraknya fenomena hoaks, kami ingin aparatur kelurahan dan desa sebagai perwakilan masyarakat memiliki kemampuan menyaring informasi, tidak mudah mempercayai setiap informasi yang diterima dari media sosial,” ujar Murthalib.

Dalam paparannya lelaki asli Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, itu juga mengatakan, fenomena hoaks sendiri merupakan bukti ketidakmampuan masyarakat memverifikasi setiap informasi yang diterimanya. Kondisi ini diakuinya akan berpengaruh terhadap penyebarluasan paham radikal terorisme. “Belum lagi ditambah kesenjangan kualitas akses internet di Indonesia yang belum merata. Karenanya langkah-langkah penguatan literasi semacam ini penting dilakukan untuk meredak penyebarluasan paham radikal terorisme,” tandasnya.

Menutup paparannya Murthalib mencontohkan keberadaan informasi bernada kebencian di media sosial, penggunaan isu SARA dan konten bermuatan perpecahan, harus mampu diantisipasi sejak dini oleh aparat kelurahan dan desa agar tidak menjadi informasi yang liar di tengah masyarakat.

“Di sini bapak-bapak akan dilatih bagaimana menghadapi informasi semacam itu, dan bagaimana cara mengatasinya agar tidak menjadi informasi liar di tengah masyarakat,” pungkas Murthalib.

Kegiatan Rembuk Aparatur Kelurahan dan Desa tentang Literasi Informasi di Palu diikuti oleh seratusan kepala desa, lurah, Babinsa, dan Babinkamtibmas. Kegiatan ini menghadirkan Devie Rachmawati, sosiolog Universitas Indonesia untuk menjadi pemateri. [shk/shk]

Tentang PMD

Admin situs ini adalah para reporter internal yang tergabung di dalam Pusat Media Damai BNPT (PMD). Seluruh artikel yang terdapat di situs ini dikelola dan dikembangkan oleh PMD.

Baca Juga

Generasi Muda Wajib Lawan Penyebaran Paham Radikal

Kupang – Pengaruh globalisasi menyebabkan paham paham radikal masuk meracuni pikiran generasi muda bangsa. Karena …